AS Kirim Destroyer-Kapal Induk ke Hormuz – Seberapa Ngeri Kekuatannya?
AS Kirim Kapal Perusak dan Kapal Induk untuk Melindungi Selat Hormuz
Washington memperkuat kehadiran militer di Selat Hormuz setelah menurunkan dua kapal perusak (destroyer) dan satu kapal induk ke wilayah tersebut. Tindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap situasi ketegangan yang semakin memanas di Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, AS berencana memblokir seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, dengan perubahan kebijakan ini berlaku mulai Senin (13/4/2026) waktu setempat.
Keputusan AS muncul setelah perundingan akhir pekan antara Washington dan Teheran tidak mencapai kesepakatan untuk berhenti dari konflik yang telah berlangsung sekitar enam minggu. Meski demikian, militer AS menjelaskan bahwa kapal dari negara-negara lain selain Iran tetap bisa melintasi selat tersebut. Di samping itu, Washington juga berencana menyingkirkan ranjau laut yang ditebar Iran di daerah itu.
Kapal Perusak yang Dioperasikan
Komando pusat AS yang mengawasi wilayah Timur Tengah, US Central Command (CENTCOM), telah menurunkan dua kapal perusak Arleigh Burke-class, yaitu USS Frank E. Petersen Jr (DDG-121) dan USS Michael Murphy (DDG-112), untuk menjalankan misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut berperan sebagai unit pengawal utama dalam operasi untuk mengembalikan kelancaran perdagangan maritim.
“Dua kapal tersebut dipakai untuk memastikan keamanan wilayah sebelum operasi pembersihan ranjau dimulai,” ungkap CENTCOM.
Para militer AS menyatakan bahwa kehadiran kapal-kapal ini bertujuan untuk mengamankan jalur lalu lintas khususnya bagi pengangkutan energi. Namun, menjaga Selat Hormuz tidak mudah karena ancaman dari ranjau laut yang bisa menghambat atau menghancurkan kapal-kapal yang melewati daerah tersebut.
Drones Bawah Air Sebagai Alat Pendukung
Sebagai bagian dari upaya pengamanan, CENTCOM juga akan menggunakan drone bawah air (unmanned underwater vehicle atau UUV) untuk memperkuat misi pembersihan ranjau. Ini menjadi langkah strategis karena ancaman utama di selat ini bukan hanya dari pertempuran terbuka, tetapi juga dari ranjau yang tersembunyi di dasar laut.
“Alutsista tak berawak seperti drone bawah air akan dimasukkan ke dalam operasi dalam beberapa hari mendatang,” kata CENTCOM.
Drones ini diharapkan bisa mendeteksi, memetakan, dan membantu menghilangkan ancaman di bawah permukaan laut. Meski demikian, jenis drone yang digunakan dalam operasi belum diungkap secara terbuka.
Kapal Induk Abraham Lincoln sebagai Pendukung Utama
Di belakang kapal perusak, AS juga menurunkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Laut Arab. Kapal ini termasuk dalam kelas Nimitz, yang merupakan kapal induk berbahan bakar nuklir dan memiliki kemampuan udara yang luar biasa. USS Abraham Lincoln beroperasi dalam dukungan operasi militer Timur Tengah dan membawa sekitar 90 pesawat serta helikopter.
Kapal ini dibangun oleh Newport News Shipbuilding dan resmi dioperasikan pada 11 November 1989 setelah proses pembangunan dimulai pada 3 November 1984. Selama lebih dari tiga dekade, USS Abraham Lincoln menjadi salah satu kekuatan utama Angkatan Laut AS dalam operasi tempur di wilayah strategis tersebut.
Keberadaan kapal induk ini memberikan dukungan kekuatan udara yang signifikan, memungkinkan penyesuaian strategi sesuai dengan kebutuhan misi. Dengan kombinasi kapal perusak, drone bawah air, dan kapal induk, AS mencoba mengatasi tantangan menjaga keamanan di selat yang menjadi titik kritis lalu lintas global.