Official Announcement: RI- China Makin Doyan Pakai Yuan, Bye Dolar Amerika
RI- China Makin Doyan Pakai Yuan, Bye Dolar Amerika
Di tengah situasi ketidakpastian global yang semakin memburuk, dolar AS masih menjadi pilihan utama dalam transaksi perdagangan dan keuangan internasional. Meski ada gejolak, mata uang AS tetap mendominasi pasar, menurut Chief Economist BCA David Sumual. Namun, perlahan mulai muncul kecenderungan penggunaan yuan China sebagai alternatif.
Permintaan Yuan Bertambah
Dalam acara Central Bank Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026), David mengungkapkan bahwa meski dolar AS masih menguasai 89% transaksi global, ada peningkatan permintaan terhadap yuan. “Kalau kita lihat, penggunaan USD masih besar. Untuk impor, misalnya, masih 90,7%, tetapi permintaan pembayaran dalam yuan mulai meningkat karena pihak-pihak memilih untuk menggunakan mata uang ini,” kata David dalam
sebuah wawancara
.
Dia menjelaskan, yuan China semakin relevan seiring perluasan hubungan dagang antara Indonesia dan Tiongkok. Aktivitas perdagangan Indonesia kini lebih terdiversifikasi, dengan porsi ekspor ke Tiongkok naik sekitar 24% dan impor dari sana meningkat hingga 74%. Hal ini memicu kebutuhan yuan di pasar internasional.
Peran Dolar Masih Kuat
David menegaskan bahwa dominasi dolar AS belum tergeser. “Dolar tetap menjadi acuan utama bagi banyak transaksi internasional, bahkan mata uang likuid terbesar di dunia adalah USD,” ujarnya. Di tengah krisis geopolitik, dolar justru kembali menguat karena dianggap sebagai aset aman. Tercatat, rupiah melemah hingga 4,9% terhadap yuan China sejak awal tahun 2026, dengan kurs Rp2.505/CNY pada hari ini.
Langkah pemerintah Tiongkok menerbitkan Dim Sum Bonds juga dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan likuiditas yuan. Penerbitan tersebut menarik minat investor domestik dengan total pesanan mencapai 18 miliar yuan (Rp39,6 triliun) pada Oktober 2025. Namun, David menilai perubahan ini lebih bersifat diversifikasi bertahap, bukan pengganti dominasi dolar dalam jangka pendek.
Berdasarkan survei Bank for International Settlements (BIS), pangsa yuan di pasar valas global naik menjadi 8,5% pada 2025 dari 7% pada 2022. Meski demikian, dolar AS tetap mendominasi dengan 89,2% dari total transaksi internasional. “Dolar masih menjadi mata uang utama dunia, tapi penggunaan yuan mulai menunjukkan pertumbuhan,” tambah David.