Topics Covered: IHSG Digendong Emiten Konglo, Naik 0,56% ke Level 7.500
IHSG Naik 0,56% ke Level 7.500, Didorong Emiten Konglomerat
Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup dalam zona positif setelah sempat merosot di pagi hari, Senin (13/4/2026). Indeks bergerak naik 0,56% atau 41,69 poin, mencapai level 7.500,19. Dalam sesi perdagangan, terdapat 264 saham yang turun, 397 naik, dan 156 saham tidak bergerak. Volume transaksi mencapai Rp 20,44 triliun, dengan 42,51 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,56 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar mengalami kenaikan menjadi Rp 13.364 triliun. Sector perdagangan tampil dominan dengan kenaikan signifikan, khususnya pada sektor infrastruktur dan barang baku. Sementara itu, sector teknologi dan finansial mengalami pelemahan. Emiten konglomerat menjadi penopang utama kinerja IHSG, dengan tiga perusahaan Prajogo Pangestu memimpin peningkatan indeks. Ketiganya adalah BRPT yang sumbangsih 15,47 poin, BREN 10,14 poin, dan TPIA 8,27 poin.
Pengumuman Blokade Selat Hormuz Menjadi Pemicu Kenaikan IHSG
Langkah positif IHSG terjadi di tengah ketidakstabilan situasi geopolitik. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan mengambil langkah tegas terhadap Selat Hormuz, menyusul kebuntuan dalam pembicaraan damai di Islamabad. “Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,”
tertulis dalam unggahan Trump di platform Truth Social.
“Blokade akan dimulai dalam waktu dekat. Negara-negara lain akan terlibat dalam inisiatif ini. Iran tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari tindakan pemerasan ilegal.”
U.S. Central Command menyatakan bahwa blokade akan diterapkan mulai Senin pukul 10 pagi waktu Timur AS. Mereka memberi waktu tambahan untuk informasi kepada kapal-kapal komersial sebelum pelaksanaan resmi. Dalam pernyataan, CENTCOM menegaskan bahwa AS tidak akan menghalangi kapal yang melintas ke atau dari pelabuhan non-Iran. Blokade hanya berlaku untuk kapal yang bergerak masuk atau keluar dari pelabuhan atau wilayah pesisir Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Kebuntuan Perundingan dan Dampak pada Pasar Global
Pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan runtuh karena Iran menolak menghentikan upaya memperoleh senjata nuklir. Tuntutan Iran mencakup kontrol penuh atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, dan gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance juga berupaya mengakhiri pertemuan tersebut setelah lebih dari 21 jam diskusi.
Kondisi ini memperparah tekanan terhadap harga minyak dan ekonomi global. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga lebih dari US$100 per barel akibat penguncian Selat Hormuz. Kini, ancaman blokade AS memicu ketidakpastian pasar, meski IHSG kembali memperlihatkan peningkatan. Dalam konteks domestik, agenda utama juga datang dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang dirilis Senin (13/4/2026). Data ini sering digunakan untuk menilai aktivitas konsumsi rumah tangga.
Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Januari yang tercatat 6,6%. Kenaikan ini memperkuat optimisme pasar akan kinerja ekonomi domestik. Namun, krisis geopolitik terus menjadi faktor penggerak utama volatilitas global.