Special Plan: BI, Kemenkeu, Ekonom Duduk Bareng Bahas Kondisi Rupiah, Ini Hasilnya!

BI, Kemenkeu, dan Ekonom Kumpul Bareng, Ini Penjelasan Tentang Kondisi Rupiah!

Jakarta, Selasa (14/4/2026). Selama beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penyesuaian, memasuki titik keseimbangan baru. Sejak 1 April 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.000/US$ sebagai akibat tekanan yang berlangsung. Menurut data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), pada 1 April kurs rupiah diperdagangkan antar bank dengan rata-rata Rp17.002. Kurs ini kemudian terus bergerak naik hingga mencapai Rp17.122/US$ pada 13 April.

Kondisi Kurs Dipengaruhi Konflik Global

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pergerakan kurs belakangan ini dipengaruhi oleh efek konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memicu sentimen ‘risk off’ di kalangan investor global, yang menyebabkan aliran dana ke aset aman seperti surat berharga AS. Akibatnya, indeks dolar terhadap mata uang utama dunia (DXY) menguat, tercatat di level 99,01 berdasarkan data Revinitif pukul 09.00 WIB, naik 0,37%.

“Sentimen risk off terjadi karena investor menghindari risiko, sehingga berpindah ke ekonomi maju, termasuk AS. DXY terus meningkat,” ujar Destry dalam Central Banking Forum 2026 dengan tema ‘Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global.’

Depresiasi rupiah tidak hanya memengaruhi nilai tukar terhadap dolar AS, tetapi juga berdampak pada mata uang negara berkembang lain. Dari catatan BI, volatilitas rupiah masih tergolong rendah dibanding tujuh negara lainnya, mencapai 4,75. Angka ini lebih baik dibanding India rupee (8,92), Filipina peso (10,55), hingga Afrika Selatan rand (16,34).

Fundamental Ekonomi Indonesia Memperkuat Stabilitas Rupiah

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad, menegaskan bahwa volatilitas rupiah yang terjadi bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi juga terkait dengan fondasi ekonomi Indonesia yang solid. Hal ini terlihat dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang berada di level ekspansi 50,1 pada Maret 2026, serta pertumbuhan kredit yang mencapai 9,37% secara tahunan.

“Tekanan pada rupiah masih moderat dibanding negara-negara sejawat. Depresiasi mata uang kita terkendali,” kata Faisal dalam forum yang sama.

BI mencatat bahwa pelemahan kurs rupiah sejak awal tahun 2026 hanya sekitar 2,91%, lebih baik dibanding Korea won (2,85%), India rupee (3,08%), dan Turki lira (3,69%). Penjelasan ini didukung oleh ketersediaan cadangan devisa yang mencapai US$148,2 miliar, di atas standar global untuk melindungi kewajiban impor dan utang luar negeri pemerintah.

Proyeksi Kekuatan Rupiah Jangka Panjang

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan, menyatakan bahwa pelemahan rupiah hingga saat ini masih bisa dikendalikan berkat fundamental yang terjaga. Defisit transaksi berjalan berada di level 0,69%, dalam batas toleransi. Selain itu, inflasi tetap berada di bawah target BI, yakni 3,48% pada Maret 2026.

“Dari tiga faktor tersebut, rupiah memiliki fundamental yang baik. Meski bukan imun terhadap gejolak global, tren jangka menengah hingga panjang justru akan menguat,” tegas Erwin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *