New Policy: Penanganan kanker butuh strategi progresif dan berorientasi pasien

Penanganan Kanker Butuh Strategi Progresif dan Berorientasi Pasien

Jakarta – Esra Erkomay, presiden direktur AstraZeneca Indonesia, menekankan pentingnya pendekatan progresif dan terpadu dalam menangani kanker di tanah air. “Kesehatan masyarakat kini terikat erat dengan visi pembangunan negara,” ujarnya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Selasa. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, kanker menjadi ancaman serius yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat, produktivitas, serta ketahanan ekonomi negara.

Mengacu pada data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Esra menyampaikan bahwa setiap tahun tercatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan lebih dari 242.000 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia. Kementerian Kesehatan juga memproyeksikan bahwa jika tidak ada intervensi lebih kuat, jumlah kasus kanker bisa naik hingga lebih dari 70 persen pada 2050. Tren ini menunjukkan bahwa pendekatan tradisional tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan kanker.

“Tren ini bukan hanya menjadi tantangan statistik, tetapi juga memberikan dampak nyata pada masyarakat dan sistem kesehatan,” kata Esra.

Menurutnya, banyak pasien kanker mengalami penurunan kualitas hidup, hilangnya kemampuan bekerja, hingga tekanan finansial berat. Keluarga mereka terpaksa menguras tabungan atau menjual aset demi mendanai pengobatan jangka panjang. Dampak ini secara luas menekan produktivitas nasional dan meningkatkan beban ekonomi negara.

Dalam konteks ini, Esra menyoroti bahwa kanker berpotensi menjadi penghalang tersiram (silent barrier) bagi pencapaian Indonesia Emas 2045. “Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang medis harus diiringi kebijakan yang memungkinkan adopsi inovasi lebih cepat dan merata,” tuturnya. Selain itu, ia menekankan perlunya memperkuat deteksi dini sebagai langkah kritis untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi biaya pengobatan.

Kebutuhan untuk menekan kompleksitas dan ongkos perawatan juga dianggap sebagai bagian penting dari pendekatan yang lebih humanis. Esra menyebutkan bahwa skrining kesehatan perlu menjadi kebiasaan masyarakat, sehingga akses terhadap terapi terbaru dapat terjamin. Dengan demikian, manfaat diagnosa dini dapat terwujud sebagai hasil terapi yang optimal.

Dari segi pengobatan, Esra mengungkapkan bahwa terobosan ilmu pengetahuan seperti terapi target telah membuka kemungkinan baru. Studi klinis menunjukkan bahwa pada kanker paru dengan mutasi tertentu, metode ini mampu menghambat perkembangan penyakit secara lebih efektif, memungkinkan pasien hidup lebih lama dengan kondisi yang lebih baik. “Namun, kemajuan ini hanya bermakna jika pasien bisa mengaksesnya,” tambahnya.

Dengan demikian, akses terhadap terapi inovatif dan obat mutakhir harus dianggap sebagai bagian dari hak pasien untuk memperoleh pengobatan terbaik. Hal ini memerlukan dukungan kebijakan yang mendorong adopsi teknologi medis secara berkelanjutan dalam sistem kesehatan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *