Latest Program: Pajak Tinggi Bikin Harga Mobil RI Mahal, Tarifnya Bisa 40%
Pajak Tinggi Bikin Harga Mobil RI Mahal, Tarifnya Bisa 40%
Harga Kendaraan Naik, Pasar Otomotif Terpuruk
Harga kendaraan di Indonesia yang terus meningkat kembali menjadi perbincangan utama di tengah krisis pasar otomotif dalam negeri. Faktor utama yang disebutkan adalah kontribusi besar pajak dalam harga penjualan mobil. Situasi ini dinilai mengurangi kemampuan beli masyarakat dan menghambat perkembangan industri otomotif lokal, terutama di masa elektrifikasi.
Analisis Agus Purwadi
Dalam Media Workshop Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Selasa (14/4/2026), Agus Purwadi dari National Center for Sustainable Transportation Technology Institut Teknologi Bandung (NCSTT ITB) menjelaskan bahwa struktur harga kendaraan sangat tergantung pada beban pajak yang tinggi. “Harga produk otomotif dalam negeri sekitar 40% diambil sebagai pajak, sementara sisanya adalah nilai barang,” kata Agus saat menghadiri acara tersebut.
“Sehingga tidak aneh bahwa warga Indonesia dengan GDP sekitar 5000 dolar membeli mobil yang harganya lebih mahal dibandingkan penduduk Jepang,” tambahnya.
Reformasi Kebijakan Fiskal
Agus berpendapat bahwa kendaraan seharusnya menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan beban bagi masyarakat. Ia menekankan perlunya perubahan cara melaksanakan kebijakan pajak agar lebih mendorong ekonomi. “Dengan pajak yang terlalu tinggi, daya beli akan menurun, serta pertumbuhan ekonomi juga terhambat,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah perlu menggeser pola pikir dari pengenaan pajak tinggi ke bentuk stimulus. Langkah ini diyakini bisa meningkatkan kegiatan ekonomi secara lebih luas dan menaikkan produksi. “Oleh karena itu, kami menyarankan untuk mendorong pasar, karena pajak harus diubah menjadi stimulus atau insentif mental agar ekonomi tumbuh,” jelas Agus.
Ia juga menyoroti bahwa ukuran kebijakan tidak hanya bergantung pada persentase, melainkan nilai absolut yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Ia menambahkan bahwa pendekatan yang salah justru bisa menghambat pergerakan ekonomi secara optimal. “Maka, ini adalah metode tercepat untuk mendorong bergeraknya ekonomi,” katanya.
Foto: Peneliti NCSTT ITB Agus Purwadi dalam Media Workshop Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Selasa (14/4/2026).