Solving Problems: China bantah suplai senjata untuk perang ke Iran
China Deny Pasokan Senjata untuk Perang ke Iran
Beijing, 14 April 2026 — Pemerintah Tiongkok membantah laporan media tentang pemasokan senjata ke Iran yang diancamkan oleh Presiden AS Donald Trump dengan denda 50% tarif tambahan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mengatakan bahwa Tiongkok selalu berpegang pada prinsip bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, serta menerapkan mekanisme pengendalian yang ketat sesuai dengan hukum dan kewajiban internasional. “Laporan terkait sepenuhnya dibuat-buat,” tegas Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.
Iran Berupaya Tingkatkan Kapasitas Militer
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengungkap bahwa mereka akan memanfaatkan kemampuan militer baru jika konflik dengan AS dan Israel terus berlangsung. “Kami belum menggunakan seluruh potensi dan akan menunjukkan kemampuan yang tidak diketahui oleh musuh jika perang berlanjut,” kata Jubir IRGC, Hossein Mohebbi. Sementara itu, Jubir Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaeinik, menambahkan bahwa pasokan rudal, drone, senjata, dan amunisi yang dimiliki Iran cukup untuk mendukung operasi defensif serta ofensif di masa depan, menurut laporan IRNA.
Trump Ancam Blokade Selat Hormuz
Kebijakan blokade Selat Hormuz yang diperintahkan Trump juga dinilai memperparah ketegangan. “Dengan gencatan senjata sementara yang masih berlaku, AS justru meningkatkan kehadiran militer dan melakukan tindakan yang bertujuan mengurangi konfrontasi, tetapi justru memperburuk kondisi,” kata Guo Jiakun. Ia menekankan bahwa hanya gencatan senjata lengkap dapat menciptakan stabilitas yang sejati. “China mengajak semua pihak untuk menghormati perjanjian sementara dan berupaya meredakan situasi melalui diplomasi,” tambahnya.
Dampak Perang pada Ekonomi dan Kemanusiaan
Perang yang melibatkan Iran, AS, dan Israel sejak 28 Februari 2026 telah menyebabkan lonjakan harga minyak global. Selain itu, konflik tersebut juga mengakibatkan kematian lebih dari 1.400 orang dan kerusakan mencapai 270 miliar dolar AS terhadap fasilitas Iran. Blokade Selat Hormuz, yang dimulai pada 13 April 2026 oleh Komando Pusat AS, menghambat alur perdagangan minyak dan LNG yang mencakup sekitar 20% pasokan dunia.
Perundingan Gagal, Tiongkok Berharap Perdamaian
Meski AS dan Iran mencapai gencatan senjata sementara selama dua minggu pada 8 April 2026, perundingan di Islamabad pada 10 April 2026 tidak berhasil menyelesaikan sengketa utama, yaitu kontrol atas Selat Hormuz. Guo Jiakun menegaskan bahwa Tiongkok akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memulihkan perdamaian di Timur Tengah, sambil menekankan pentingnya menghindari pertempuran kembali.
“Pihak-pihak terkait harus mematuhi gencatan senjata sementara dan mencari jalan keluar melalui diskusi politik,” kata Guo Jiakun.
Kenangan dan Pemulihan Ketersediaan Minyak
Sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, Selat Hormuz menjadi target utama blokade AS. Tiongkok berharap bahwa langkah-langkah diplomasi dapat segera mengembalikan arus normal minyak dan gas alam cair ke pasar global.