Announced: Harga Batu Bara Ambruk Lagi, Bantuan China Sia-Sia
Harga Batu Bara Turun Lagi, Bantuan Tiongkok Tak Memberi Dampak
Pada Selasa (14/4/2026), harga batu bara tercatat turun hingga US$128,25 per ton, atau 2,9%, setelah kenaikan 1,7% pada hari sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia, meski Tiongkok mengumumkan peningkatan pembelian batu bara. Data dari Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok menunjukkan importir negara tersebut menambahkan 1,3% volume impor batu bara selama Januari-Maret 2026, mencapai 116,27 juta ton.
Pasokan batu bara ke Tiongkok dari negara lain juga turun 6% secara nilai menjadi US$8,73 miliar. Namun, pada Maret saja, impor batu bara meningkat 26,2% dibandingkan bulan sebelumnya, dengan nilai transaksi mencapai US$2,94 miliar. Rusia, salah satu eksportir utama batu bara ke Tiongkok, memperoleh pangsa pasar 29% pada tahun lalu, menurut penelitian dari Gaidar Institute.
Kebijakan EPA: Pengurangan Regulasi untuk Limbah Batu bara
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) merilis usulan perubahan regulasi federal pada 9 April, yang mencakup pembebasan kewajiban pembersihan lokasi penyimpanan abu batu bara. Hal ini terutama berdampak pada fasilitas pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) yang aktif atau tidak lagi beroperasi.
“Perubahan ini bertujuan menghapus persyaratan regulasi tahun 2024 yang dianggap tidak layak dan tidak praktis,” kata EPA.
Kebijakan tersebut memberi ruang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk menyesuaikan pengawasan air tanah, tindakan perbaikan, dan kewajiban penutupan kolam penampungan berdasarkan risiko masing-masing lokasi. Selain itu, penggunaan teknologi baru dalam proses pengolahan abu batu bara akan lebih fleksibel.
Produksi Batu Bara di India: Meningkat Tapi Masih Terbatas
Produksi batu bara India pada Maret 2026 mencapai 113,67 juta ton, setara 113,07% dari target bulanan 100,53 juta ton. Meski demikian, angka ini menunjukkan penurunan 4,09% dibandingkan Maret 2025. Produsen utama, Coal India Limited, memproduksi 84,46 juta ton, atau 90,34% dari target.
Dua perusahaan tambang lainnya, Singareni Collieries Company Limited dan tambang captive, menyumbang 5,17 juta ton serta 24,05 juta ton, masing-masing. Total produksi batu bara untuk tahun fiskal 2025-26 mencapai 1,04 miliar ton, turun 0,64% dibandingkan tahun fiskal 2024-25 sebesar 1,047 miliar ton.
Revisi EPA juga mencakup penghapusan kewajiban lingkungan untuk penggunaan residu batu bara di lahan non-jalan raya yang melebihi 12.400 ton, serta kecuali dari regulasi federal untuk abu yang digunakan dalam produksi semen dan papan gipsum. Langkah ini diperkirakan dapat mengurangi beban pembuangan limbah sekaligus meningkatkan efisiensi material konstruksi.
Masa komentar publik akan berlangsung hingga 12 Juni, dengan webinar informasi diadakan pada 15 dan 16 April, serta sidang dengar pendapat pada 28 Mei. Perubahan ini dilihat sebagai respons terhadap prioritas pemilik PLTU yang ingin meningkatkan produksi energi, meski bertentangan dengan kepentingan komunitas setempat.