Jalan Damai AS-Iran Kembali Mencuat – Harga Minyak Longsor ke US$94

Jalan Damai AS-Iran Kembali Mencuat, Harga Minyak Longsor ke US$94

Jakarta, harga minyak global kembali mengalami penurunan pada perdagangan Rabu pagi, terutama karena harapan pasar bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka. Para investor mulai mengurangi antisipasi risiko setelah peningkatan tajam yang terjadi sejak awal pekan. Berdasarkan data Refinitiv pada Rabu (15/4/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent berada di US$94,62 per barel, turun 0,18% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$94,79 per barel. Sementara itu, harga WTI mencatatkan US$90,70 per barel, melemah 0,64% dari level US$91,28 per barel.

Penurunan ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi pada hari sebelumnya. Pada Selasa, Brent mengalami penurunan 4,6% dan WTI jatuh 7,87%, setelah pasar menilai kemungkinan pembicaraan baru antara Washington dan Teheran dapat mengurangi tekanan konflik yang mengganggu rantai pasok energi global. Fokus utama pasar tetap pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi tulang punggung perdagangan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini sebelumnya menyebabkan harga mencapai puncak US$109 per barel pada 7 April.

“Komunikasi masih berjalan, dan kita siap untuk melanjutkan diskusi,” kata seorang pejabat AS.

Selama delapan hari terakhir, harga Brent turun sekitar 13,4% dari level tertingginya, sementara WTI mengalami koreksi hampir 19,7%. Ini menunjukkan pasar mulai yakin gangguan pasokan tidak akan berlangsung permanen. Reuters melaporkan bahwa tim negosiasi AS dan Iran berpeluang bertemu kembali di Islamabad pekan ini. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan upaya mediasi terus dilakukan guna memperkuat komunikasi antara kedua pihak.

Dalam laporan terbaru, Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah serta penutupan sempurna Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan terbesar sepanjang sejarah modern. Sejumlah sekitar 10,1 juta barel per hari kehilangan arus pada Maret lalu. Selain itu, IEA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 sebesar 80 ribu barel per hari, sementara pasokan global diprediksi turun 1,5 juta barel per hari. Gambaran ini memberi indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia bisa melambat jika krisis berlangsung lebih lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *