BI: Utang luar negeri pada Februari naik jadi 437,9 miliar dolar AS
BI: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 437,9 Miliar Dolar AS
Jakarta – Laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mengalami kenaikan, mencapai 437,9 miliar dolar AS. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap terjaga pada 29,8 persen. Posisi ini meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 434,9 miliar dolar AS.
Kenaikan ULN Februari 2026 mencapai 2,5 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,7 persen (yoy) pada bulan Januari. Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa peningkatan ini utamanya didorong oleh kenaikan utang sektor publik, khususnya BI, yang terkait dengan aliran dana asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Peningkatan posisi ULN tersebut terutama disebabkan oleh utang sektor publik, khususnya Bank Indonesia, yang didorong oleh aliran modal asing ke SRBI,” kata Anton Pitono.
Pembiayaan Sektor Pemerintah
Pada Februari 2026, ULN pemerintah mencapai 215,9 miliar dolar AS, tumbuh 5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 5,6 persen (yoy) di bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh penurunan nilai surat utang. Berdasarkan sektor ekonomi, utang pemerintah terbesar berasal dari jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, serta jaminan sosial wajib (20,3 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen), dan transportasi serta pergudangan (8,5 persen).
Pembiayaan Sektor Swasta
ULN swasta di bulan Februari 2026 tercatat sebesar 193,7 miliar dolar AS, dengan penurunan 0,7 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan ULN swasta dipengaruhi oleh kelompok peminjam, seperti lembaga keuangan (turun 2,8 persen yoy) dan perusahaan non-lembaga keuangan (turun 0,2 persen yoy). Sektor yang paling berkontribusi terhadap ULN swasta adalah industri pengolahan (80,3 persen dari total), jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.
Struktur Utang Jangka Panjang
ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang, mencapai 99,98 persen dari total ULN. Sementara itu, ULN swasta terutama terdiri dari utang jangka panjang dengan pangsa 76,0 persen. Secara keseluruhan, ULN Indonesia didominasi oleh utang jangka panjang, dengan persentase mencapai 84,9 persen.
Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat kerja sama dalam memantau dinamika ULN. Upaya ini bertujuan menjaga struktur utang yang sehat serta memanfaatkan peran ULN untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Strategi tersebut juga bertujuan meminimalkan risiko yang bisa mengganggu stabilitas perekonomian.