Meeting Results: Mengapa Netanyahu Tak Membiarkan Timur Tengah Damai?
Mengapa Netanyahu Tak Membiarkan Timur Tengah Damai?
Proyek Teritorial dan Strategi Militer
Konflik di Timur Tengah semakin memanas, dengan Israel menunjukkan tindakan militer yang dianggap lebih dari sekadar operasi biasa. Menurut analisis dari Murad Sadygzade, seorang dosen tamu di Universitas HSE Moskow dan presiden pusat studi Timur Tengah, langkah Tel Aviv di Lebanon bukan hanya menargetkan Hizbullah, tetapi juga membentuk ulang realitas politik dan militer di wilayah selatan. Ia menekankan bahwa proyek ini bertujuan menciptakan “zona keamanan” yang berarti pengendalian wilayah jangka panjang.
“Ini bukan sekadar upaya taktis untuk menahan Hizbullah, melainkan proyek untuk membentuk ulang realitas militer dan politik di Lebanon selatan,” ujarnya, seperti dikutip RT, Rabu (15/4/2026).
Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbullah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat. Menteri Pertahanan Israel secara terbuka menyebut target zona keamanan hingga Sungai Litani, yang mencakup hampir 10% wilayah Lebanon.
Alasan Politik dan Dampak Sipil
Proyek ini berdampak signifikan pada warga sipil. Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah, dengan klaim Israel bahwa lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan telah dihancurkan. Namun, data dari otoritas Lebanon menunjukkan 254 korban jiwa dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini juga memicu eksodus besar, dengan lebih dari 1 juta penduduk mengungsi.
“Serangan ini berarti depopulasi wilayah perbatasan dan penciptaan fakta baru di lapangan yang sulit dibalikkan,” tegas Sadygzade.
Analisisnya menyoroti bahwa perang menjadi alat untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis internal Israel. Netanyahu berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan memperkuat tekanan politik dan memperpanjang konflik sebagai cara mengurangi risiko pemilu.
Dinamika Regional dan Peran Hizbullah
Kelompok Hizbullah berada dalam posisi sulit, dihadapkan dengan serangan Israel dan tekanan dari pemerintah Lebanon yang membatasi aktivitas militer mereka. Meski demikian, Hizbullah masih mampu meluncurkan ratusan roket dan drone ke wilayah Israel. Di sisi lain, konflik Lebanon kini terkait dengan dinamika regional, terutama peran Iran dalam negosiasi dengan AS.
“Sikap ini menunjukkan upaya Israel mempertahankan kebebasan operasi militernya,” tambah Sadygzade. “Israel ingin tetap membentuk ulang kawasan sambil tetap terlibat dalam negosiasi regional,” ujarnya.
Sadygzade menyatakan bahwa konflik ini telah menjadi proyek geopolitik jangka panjang. Ia menegaskan bahwa selama logika ini bertahan, peluang perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat sangat kecil.
Pertahanan Kekuasaan dan Penundaan Politik
Menurut analisisnya, proyek ini juga menjadi cara bagi elite Israel untuk mempertahankan dominasi politik. Dengan kombinasi kepentingan teritorial, tekanan domestik, dan dinamika regional, konflik terus berlangsung hampir tak terhindarkan. Sinyal politik semakin jelas, terutama ketika Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa perbatasan Israel seharusnya mencapai Sungai Litani.
“Tanpa perang, tekanan politik akan kembali. Pertanyaan tentang kegagalan strategi dan akuntabilitas akan muncul,” ujarnya.