8 Becandaan yang Termasuk Pelecehan Seksual – Banyak Orang Tak Sadar

8 Bentuk Banter yang Termasuk Pelecehan Seksual, Banyak Orang Tak Sadar

Jakarta, kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa Universitas Indonesia memicu perdebatan di platform media sosial. Banyak orang terkejut karena 20 korban, terdiri dari mahasiswa dan dosen, menyadari telah mengalami pelecehan sejak tahun 2025. Munculnya isu ini memberikan peringatan bahwa ruang yang dianggap aman, intelektual, dan prestisius pun bisa menjadi sumber pelanggaran batas.

1. Catcalling

Pujian spontan seperti ‘hai cantik’ atau ‘assalamualaikum’ yang diberikan kepada perempuan asing sering kali dianggap sebagai tanda keakraban, namun sebenarnya merupakan bentuk verbal jalanan yang disebut catcalling. Alih-alih dipandang sebagai apresiasi, sapaan tersebut kerap memicu rasa jijik, takut, atau marah pada korban.

Sapaan ‘hai cantik’ atau ‘assalamualaikum’ kepada perempuan tak dikenal sekilas tampak seperti bentuk ramah tamah, padahal itu adalah bentuk pelecehan verbal jalanan yang disebut catcalling.

2. Candaan Soal Tubuh Perempuan

Perempuan sering menjadi korban objektifikasi melalui lelucon yang mengarah ke seksualisasi tubuhnya. Nada candaan biasanya menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu, seperti payudara hingga bokong. Berikut beberapa contoh:

“Hi neng, sini abang anterin pulang”

“Ih kamu makin ‘berisi’ ya, hati-hati banyak yang ‘ngincer'”

“Kamu tadi pagi habis ‘keramas’ ya?”

“Kamu kalau pakai baju gitu bikin orang susah fokus deh”

“Kamu keliatan kayak yang jago nih soal begituan”

“Ah malu-malu aja, nanti juga mau”

“Ya wajar sih digituin, orang pakaiannya kayak gitu…”

“Pasti enak banget ‘main’ sama kamu…”

3. Komentar Merendahkan

Banyak orang tidak menyadari bahwa lelucon yang terkesan santai bisa merendahkan. Perkataan seperti ‘kamu tadi pagi habis ‘keramas” atau ‘kamu kalau pakai baju gitu bikin orang susah fokus’ memberikan kesan bahwa tubuh perempuan adalah subjek yang bisa diejek.

4. Pergeseran Peran dalam Interaksi

Komentar seperti ‘kamu keliatan kayak yang jago nih soal begituan’ menggambarkan perempuan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang aktif. Hal ini menciptakan kesan bahwa mereka ‘harus’ menanggapi lelucon tersebut dengan cara tertentu.

5. Penggunaan Jargon Seksual

Bahasa lelucon yang menggunakan istilah seksual seperti ‘ngincer’ atau ‘main’ mengubah dialog sehari-hari menjadi bentuk pelecehan. Sapaan santai seperti ‘ah malu-malu aja, nanti juga mau’ menunjukkan bahwa kejadian itu dianggap wajar.

6. Permainan Kata yang Menjijikkan

Beberapa lelucon menggunakan alasan absurd seperti ‘ya wajar sih digituin, orang pakaiannya kayak gitu’ untuk membenarkan tindakan merendahkan. Ini memperlihatkan bagaimana kesadaran masyarakat tentang pelecehan seksual masih rendah.

7. Komentar yang Memicu Rasa Tidak Nyaman

Kata-kata seperti ‘kamu tadi pagi habis ‘keramas” atau ‘kamu keliatan kayak yang jago nih soal begituan’ menunjukkan bagaimana candaan bisa menjadi alat untuk menyindir atau mengintimidasi.

8. Penjelasan yang Membuat Korban Merasa Diremehkan

Banyak orang tak sadar bahwa lelucon yang tampak biasa bisa menyebabkan rasa rendahan pada korban. Contohnya, kalimat ‘pasti enak banget ‘main’ sama kamu’ memperlihatkan bagaimana sapaan sederhana bisa menjadi bentuk kekerasan yang tidak terdeteksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *