Special Plan: Harga Nikel Melonjak ke Level Tertinggi 2 Bulan, Gara-Gara Indonesia!
Harga Nikel Melonjak ke Level Tertinggi 2 Bulan, Gara-Gara Indonesia!
Pergerakan harga nikel tercatat mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, seiring adanya kebijakan baru dari pemerintah Indonesia yang memengaruhi pasar logam global. Menurut Trading Economics, pada perdagangan 15 April 2026, harga nikel berada di angka US$18.323,88 per ton, naik 0,63% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini juga mencerminkan tren peningkatan 4,8% dalam satu bulan terakhir, serta kenaikan 17,5% secara tahunan.
Kenaikan harga nikel terjadi karena pasar mulai memahami langkah pemerintah Indonesia dalam mengatur supply chain bahan baku nikel. Pemerintah mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel, dengan menambahkan komponen baru seperti besi, kobalt, dan kromium dalam proses penilaian. Selain itu, faktor koreksi yang digunakan untuk menentukan harga minimum juga dinaikkan, sehingga berdampak pada biaya produksi global.
“Perubahan aturan harga ini memaksa pelaku pasar menghitung ulang margin usaha mereka,” ujar seorang analis dari CNBC Indonesia Research.
Penambang nikel di Indonesia kini menghadapi biaya lebih tinggi, yang kemudian menyebar ke smelter yang selama ini memperoleh bahan baku dengan harga murah. Naiknya ongkos produksi di hulu menyebabkan kurva biaya keseluruhan terangkat, memperkuat posisi harga acuan dunia di level tinggi.
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, terus menjadi pusat pengembangan industri pemurnian. Dengan adanya kebijakan yang lebih ketat, pelaku pasar di Shanghai hingga London mulai menyesuaikan strategi mereka. Tekanan tambahan datang dari sektor HPAL, teknologi pengolahan yang menjadi fondasi utama untuk produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Di sisi lain, kenaikan harga sulfur di atas US$800 per ton berdampak pada biaya produksi pabrik, menyebabkan sebagian produsen memangkas output. Meski pasokan jangka pendek membaik, permintaan dari sektor baterai dan stainless steel tetap kuat, menciptakan tekanan pasokan yang tidak bisa terbendung. Kombinasi ini menjadikan pasar tidak memiliki ruang lega untuk menurunkan harga.
Kombinasi antara peningkatan biaya dan permintaan yang stabil membuat harga nikel berada di posisi yang tidak bisa dilepaskan. Meski suplai terbatas, konsumsi tetap mengalami pertumbuhan, sehingga menegaskan kekuatan permintaan global terhadap logam ini.