Topics Covered: AS Tembakkan “Meriam” Ekonomi Baru ke Iran, Acak-Acak Ekonomi Teheran

AS Hentikan Pengecualian Sanksi Minyak Iran, Tekan Ekonomi Teheran

Amerika Serikat (AS) akan mengakhiri kebijakan pengecualian sanksi minyak Iran yang berlaku untuk pengiriman ke pasar global pada pekan ini. Langkah ini bagian dari upaya menyumbat seluruh arus eksportasi minyak dari pelabuhan Iran. Sebelumnya, Washington juga memutuskan penghentian pengecualian sanksi minyak Rusia akhir pekan lalu secara diam-diam.

Departemen Keuangan AS memperkuat tekanan ekonomi maksimal terhadap Teheran melalui keputusan ini. Seorang pejabat pemerintah memberikan penjelasan kepada Reuters: “Langkah pada Selasa ini menunjukkan bahwa Departemen Keuangan sedang mengerahkan kekuatan penuh dalam ‘economic fury’ terhadap Iran,” tulis sumber tersebut, dikutip pada Rabu (14/4/2026). Istilah ini merujuk pada Operasi Epic Fury, yang menjadi bagian dari kampanye militer AS.

Pengecualian sanksi yang berlaku hingga 19 April sebelumnya memungkinkan sekitar 140 juta barel minyak mencapai pasar global. Hal ini membantu meredam tekanan pasokan energi saat perang terjadi dengan Iran, menurut Menteri Keuangan Scott Bessent. Namun, keputusan baru mengakhiri upaya kontroversial dari pemerintahan Trump dalam menurunkan harga energi internasional.

Perang Harga dan Kecaman Politik

Kebijakan ini juga memicu kecaman dari anggota parlemen AS. Mereka menganggap pengecualian sanksi justru mendukung perekonomian musuh. Washington siap memberikan hukuman terhadap lembaga yang terlibat dalam aktivitas ilegal dengan Iran. “Aktivitas apa pun terhadap Teheran bisa memicu sanksi tambahan, terutama dengan kembalinya larangan PBB,” kata sumber pejabat.

Sebagai langkah tambahan, Departemen Keuangan AS mengirimkan peringatan ke China, Hong Kong, UEA, dan Oman. Hal ini karena Iran diduga mengalirkan dana 9 miliar dolar melalui rekening koresponden AS pada 2024. Bessent menegaskan bahwa blokade di Selat Hormuz akan memastikan tidak ada kapal membawa minyak Iran melintas. “Mereka tidak bisa mendapatkan minyak Iran, meski bisa membeli dari negara lain,” tegas Bessent.

China sebelumnya membeli lebih dari 90% minyak Iran, termasuk 8% dari total impor energi tahunan mereka. Dengan kebijakan baru, AS menutup celah ekspor tersebut. Langkah ini memperkuat tekanan ekonomi global terhadap Iran, sekaligus mengarahkan pasar ke negara-negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *