Main Agenda: G7 sepakat stabilkan ekonomi global di tengah perang AS-Iran

G7 Sepakat Stabilkan Ekonomi Global di Tengah Perang AS-Iran

Dalam pertemuan di Tokyo, para menteri keuangan dari kelompok G7 sepakat menetapkan langkah untuk memastikan stabilitas ekonomi global, meski masih menghadapi risiko dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kebijakan tersebut diambil di tengah naiknya harga energi dan gangguan rantai pasok dunia, dengan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa para bank sentral cenderung bersikap observatif dalam menentukan langkah moneter.

Konteks Konflik

Katayama mengungkapkan bahwa perang yang berlangsung lebih dari satu bulan terakhir masih menyisakan ketidakpastian, dan sulit memprediksi apakah gencatan senjata akan berdampak jangka panjang. “Saya percaya ada pemahaman bersama bahwa kita perlu melakukan yang terbaik untuk meredakan situasi, termasuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” ujarnya dalam

sebuah pernyataan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent absen dari pertemuan karena jadwal yang bertabrakan. Katayama menambahkan bahwa pernyataan bersama yang disusun oleh Inggris menggambarkan persetujuan umum dari berbagai pihak. Namun, G7 tidak mengeluarkan komunike bersama setelah diskusi. Dalam dokumen terkait Timur Tengah, para menteri juga menyatakan bahwa dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar akan terus terasa bahkan jika perang berakhir.

Komitmen G7

Para menteri sepakat mendukung kerja sama dan integrasi untuk memperkuat stabilitas regional dan global. Konflik ini juga memperlihatkan ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Eropa. Meski dunia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, Selat Hormuz—jalur utama perdagangan maritim—masih sebagian besar tertutup bagi lalu lintas laut.

Sebagai bagian dari diskusi, para peserta G7 juga membahas bantuan bagi Ukraina serta kerja sama dalam pengamanan mineral kritis yang vital bagi industri teknologi tinggi dan keamanan nasional, menurut Katayama. Paket bantuan keuangan senilai 10 miliar dolar AS yang diumumkan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Rabu berupaya memperkuat sistem distribusi energi di Asia, termasuk melalui pinjaman untuk pengadaan minyak mentah dan produk ol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *