New Policy: Tiga SPPG di Lebong jadi dapur darurat, salurkan makanan pascabanjir
Tiga SPPG di Lebong Berubah Fungsi Jadi Pusat Pengelolaan Makanan Darurat
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, secara cepat mengalihkan tugasnya menjadi dapur darurat untuk membagikan ratusan ribu porsi makanan kepada korban banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Kamis, SPPG yang sebelumnya fokus pada layanan kebutuhan sehari-hari ini berperan sebagai penyedia makanan siap saji selama beberapa hari. Banjir akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran sungai melebar membuat aktivitas masyarakat terganggu, termasuk kesulitan memasak di rumah. Untuk mengatasi masalah tersebut, tiga SPPG langsung bergerak dengan mengkoordinasikan diri dengan Korcam, Korwil, serta Satgas Kabupaten.
SPPG Lebong Selatan Tes: Beroperasi dalam 24 Jam
Kepala SPPG Lebong Selatan Tes, Andi Taptaldo, mengungkapkan bahwa dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya segera difungsikan sebagai titik distribusi bantuan setelah terjadi banjir. “Kami langsung siapkan kebutuhan makanan karena warga terdampak tidak mampu memasak di rumah. Proses alih fungsi dimulai sejak 8 April 2026,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa kapasitas produksi dapur mencapai 630 porsi per hari, dengan makanan langsung diberikan ke posko dan rumah warga yang terkena dampak. Kebutuhan darurat memerlukan respons cepat, dan pihaknya berupaya optimal untuk memastikan distribusi tepat sasaran.
“Perubahan fungsi ini kami lakukan karena masyarakat terdampak banjir tidak bisa memasak di rumah. Kami langsung bergerak setelah berkoordinasi dengan Korcam, Korwil, hingga Satgas Kabupaten,” ujarnya.
SPPG Lemeu Pit: Koordinasi Lintas Tingkatan Mempercepat Bantuan
Kepala SPPG Lebong Sakti Lemeu Pit, Roki Suhendra, menuturkan bahwa komunikasi intensif antar level menjadi kunci keberhasilan penyaluran makanan. “Kami mengkoordinasikan diri mulai dari tingkat kecamatan hingga pusat. Pada hari pertama, kami salurkan 857 porsi, hari kedua meningkat menjadi 2.427 porsi. Total penerima bantuan mencapai 3.284 orang,” katanya. Selain mengirimkan bantuan ke posko, distribusi juga dilakukan secara langsung ke desa-desa terdampak, baik melalui pengantaran maupun pengaturan di rumah warga.
“Kami berkoordinasi mulai dari tingkat kecamatan hingga regional. Pada hari pertama kami menyalurkan 857 porsi, dan hari kedua meningkat menjadi 2.427 porsi. Total penerima manfaat mencapai 3.284 orang,” katanya.
SPPG Selebar Jaya: Proses Terstruktur dan Penyesuaian Sistem
Kepala SPPG Lebong Amen Selebar Jaya, M. Dicky Saputra, mengatakan bahwa keputusan penyaluran bantuan didasarkan pada mekanisme resmi yang melibatkan Pemerintah Daerah Lebong hingga BGN. “Setelah ada arahan, kami segera bergerak. Dalam satu hari, dapur sudah beralih fungsi dan mampu memproduksi 600 porsi makanan untuk warga,” terangnya. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan awal adalah ketersediaan bahan baku yang mendadak, namun tim berhasil mengatasi dengan koordinasi yang terstruktur.
“Kami berkoordinasi dengan Pemda Lebong, kemudian diteruskan ke tingkat wilayah dan pusat. Setelah ada arahan, kami langsung bergerak. Dalam satu hari, dapur sudah beralih fungsi dan mampu memproduksi 600 porsi makanan untuk warga,” katanya.
Secara keseluruhan, ketiga SPPG tersebut berhasil menyalurkan minimal 4.514 porsi makanan selama masa tanggap darurat. Masyarakat mengapresiasi keberadaan dapur darurat karena membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Alhamdulillah masyarakat sangat terbantu. Dalam kondisi seperti ini, makanan siap saji menjadi kebutuhan utama,” tutur Dicky. Dengan bantuan ini, warga yang masih terjebak dalam situasi darurat bisa mempertahankan kesehatan dan energi untuk pemulihan.