New Policy: Mentan: Kolaborasi pusat dan daerah kunci bangun kemandirian pangan
Mentan: Kolaborasi pusat dan daerah kunci bangun kemandirian pangan
Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menyatakan bahwa sinergi program, peningkatan hasil pertanian, serta penguatan sistem distribusi yang berkelanjutan adalah elemen penting dalam mencapai swasembada pangan secara optimal.
“Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dianggap sebagai faktor utama. Tanpa koordinasi yang baik, target besar seperti swasembada pangan tidak akan tercapai secara maksimal,” jelas Amran saat memberi pidato di Lemhannas, Magelang, Jawa Tengah, Jumat.
Amran menyoroti peran penting Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam mendukung kebijakan, alokasi anggaran, serta pengawasan di tingkat lokal. Menurutnya, DPRD memegang posisi strategis untuk memastikan program pertanian berjalan efektif, termasuk dalam menyalurkan dana dan mengembangkan regulasi yang sesuai.
“Ketua DPRD memiliki tanggung jawab besar. Cara anggaran diarahkan dan kebijakan daerah mendukung petani akan menjadi penentu utama keberhasilan program ini,” tegasnya.
Kondisi global saat ini semakin rumit akibat krisis pangan, energi, dan air. Di tengah tantangan tersebut, Indonesia harus memperkuat fondasi ketahanan pangan dari tingkat daerah, termasuk memastikan setiap provinsi mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Menurut data Kementerian Pertanian, stok pangan nasional mencapai 4,8 juta ton, dengan sekitar 160 juta petani terlibat dalam sektor pertanian. Potensi ini dianggap bisa lebih optimal jika didukung kolaborasi lintas sektor dan wilayah.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong kolaborasi di bidang energi, khususnya pengembangan bioenergi berbasis pertanian. Salah satu targetnya adalah penghentian impor solar sekitar 5 juta ton mulai 1 Juli 2026 melalui penguatan bioetanol sebagai pengganti bensin.
“Ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga energi. Daerah harus aktif dalam mengembangkan bioenergi yang memanfaatkan potensi lokal,” ujar Amran.
Saat ini, produk beras Indonesia telah diekspor ke 33 negara, menunjukkan kontribusi yang meningkat di tingkat internasional. Amran menegaskan bahwa keberhasilan ke depan tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi juga pada kekuatan kolaborasi di daerah.
“Tanpa kerja sama yang solid antara pusat dan daerah, kita hanya bisa mandiri, tetapi tidak mungkin menjadi kekuatan pangan global,” tambahnya.