What Happened During: Tangis Hati Gen Z: Pontang-panting Cari Kerja, Nganggur Bertahun-tahun

Tangis Hati Gen Z: Pontang-panting Cari Kerja, Nganggur Bertahun-tahun

Dalam kondisi persaingan kerja yang semakin ketat, banyak generasi muda, termasuk dari kalangan Gen Z, kini menghadapi tantangan berat dalam mencari pekerjaan. Meski telah menempuh pendidikan tinggi, bahkan di luar negeri, banyak di antara mereka terjebak dalam situasi menganggur jangka panjang. Beberapa beralih ke pekerjaan sementara dengan pendapatan tidak menjamin, sebagai cara untuk bertahan.

Kelvin menjadi contoh nyata dari masalah ini. Ia pernah kuliah di luar negeri, di Melbourne University, lalu pulang ke Indonesia pada 2020 karena pandemi. Setelah itu melanjutkan studi di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) hingga lulus tahun 2024. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan, peluang pekerjaan tetap masih tertutup. “Saya pernah kuliah di luar negeri, di Melbourne University, lalu pulang ke Indonesia pada 2020 karena pandemi. Setelah itu melanjutkan studi di IKJ hingga lulus tahun 2024. Namun, setelah lulus, pekerjaan tetap belum ditemukan, sehingga beralih ke freelance di industri kreatif,” ujarnya saat ditemui di Mega Career Expo Jobstreet, Gedung SMESCO, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

“Saya pernah kuliah di luar negeri, di Melbourne University, lalu pulang ke Indonesia pada 2020 karena pandemi. Setelah itu melanjutkan studi di IKJ hingga lulus tahun 2024. Namun, setelah lulus, pekerjaan tetap belum ditemukan, sehingga beralih ke freelance di industri kreatif,” ujarnya saat ditemui di Mega Career Expo Jobstreet, Gedung SMESCO, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Meski bekerja freelance, penghasilannya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kondisi pasar kerja yang kompetitif, banyak Gen Z yang terjebak dalam fase ini, sambil terus mencari peluang yang ada.

Kisah Sarah: Pekerjaan Terputus dan Keterbatasan Persaingan

Seorang lulusan 2020, Sarah, juga mengalami perjalanan serupa. Ia sempat bekerja di sebuah agensi selama empat tahun, tetapi krisis perusahaan membuatnya terpaksa berhenti. Sejak 2024, ia terus mencari pekerjaan, namun kesulitan menemukan posisi sesuai dengan latar belakangnya. “Saya lulus tahun 2020 dan sempat bekerja di agensi selama empat tahun. Namun, karena perusahaan mengalami kesulitan, akhirnya saya diberhentikan. Sejak saat itu, saya menganggur sejak 2024, kesulitan mencari pekerjaan di level posisi saya,” katanya.

“Saya lulus tahun 2020 dan sempat bekerja di agensi selama empat tahun. Namun, karena perusahaan mengalami kesulitan, akhirnya saya diberhentikan. Sejak saat itu, saya menganggur sejak 2024, kesulitan mencari pekerjaan di level posisi saya. Baik untuk lowongan fresh graduate maupun berpengalaman, saya masih kalah saing,” katanya.

Di tengah persaingan yang semakin sengit, Sarah beralih ke bidang seni untuk menjalani pekerjaan sementara. Namun, pendapatan yang diperoleh jauh dari cukup. “Di bidang seni, saya sekarang freelance, tapi itu pun tidak menguntungkan banyak. Sebulan paling cuma bisa 1-2 orderan, untungnya hanya ratusan ribu saja,” tutur dia.

Realitas Gen Z: Antara Pendidikan dan Kesulitan Pekerjaan

Kisah Kelvin dan Sarah mencerminkan situasi yang dihadapi banyak Gen Z. Dengan pendidikan tinggi dan pengalaman kerja, peluang mendapatkan pekerjaan stabil masih sulit tercapai. Pasar kerja yang kompetitif membuat sebagian besar dari mereka terjebak dalam fase menganggur, sambil terus berusaha memanfaatkan peluang yang tersisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *