Main Agenda: Iran Bantah Keras Mau Serahkan Uranium ke Trump
Iran Tegaskan Uranium Terkaya Tidak Akan Dikirim ke Tempat Lain
Iran menolak keras rencana transfer uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak resmi. Dalam wawancara dengan AFP, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa uranium terkaya negara itu tetap menjadi milik Iran dan tidak akan dipindahkan. “Pemindahan uranium Iran ke AS belum pernah disebutkan dalam pembicaraan,” tambahnya.
Trump Klaim AS Akan Mendapat Semua “Debu” Nuklir Iran
Sebelumnya, mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah pernyataan di Truth Social, menyatakan bahwa AS akan menerima seluruh “debu” nuklir Iran. Ia merujuk pada uranium yang tertimbun akibat serangan militer AS terhadap Iran pada Juni 2025. Namun, Baqaei menyangkal klaim tersebut, menegaskan bahwa negosiasi terakhir hanya fokus pada penyelesaian konflik, bukan pada pemulihan uranium.
“Negosiasi sebelumnya berfokus pada isu nuklir, sementara negosiasi saat ini tentang mengakhiri perang, dan topik yang dibahas lebih luas,” ujarnya.
Baqaei juga mengkritik Trump karena menyatakan blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlangsung hingga kesepakatan damai tercapai, meski Iran telah mengklaim Selat Hormuz kembali dibuka. “Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz ditentukan di lapangan, bukan di internet, dan tentu saja kita siap mengambil langkah tepat sebagai respons terhadap tindakan pihak lain,” imbuhnya.
Iran diperkirakan masih menyimpan jumlah uranium terkaya hingga 60 persen, atau mendekati tingkat 90 persen yang diperlukan untuk produksi bom atom. Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium diperkaya, melebihi batas 3,67 persen yang ditetapkan oleh perjanjian internasional tahun 2015.