Key Strategy: PDIP: Dukungan kemerdekaan Palestina adalah amanat Dasasila Bandung
PDIP: Dukungan Kemerdekaan Palestina sebagai Amanat Dasasila Bandung
Dalam acara seminar nasional bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Sabtu, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina bukan hanya sikap politik berbasis emosi, melainkan juga keharusan konstitusional dan prinsip hukum internasional. Ia menjelaskan bahwa Dasasila Bandung, yang terbentuk dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, menjadi landasan kuat untuk kebijakan tersebut.
Menurut Hasto, pada tahun 1955, para pemimpin dari 29 negara memperkuat komitmen politik mereka melalui komunike yang secara spesifik memperjuangkan hak bangsa Arab atas Palestina. “Ketegangan di Timur Tengah akibat isu Palestina adalah ancaman terhadap perdamaian dunia. KAA menekankan pentingnya menerapkan resolusi PBB dan menyelesaikan konflik secara damai,” ujarnya dalam pembukaan seminar.
“Ketegangan di Timur Tengah akibat isu Palestina adalah ancaman terhadap perdamaian dunia. KAA menekankan pentingnya menerapkan resolusi PBB dan menyelesaikan konflik secara damai,” kata Hasto Kristiyanto.
Hasto menyoroti peran Indonesia sebagai “mercusuar keadilan” yang memiliki sejarah luar biasa dalam KAA 1955. Ia menekankan bahwa Indonesia harus tetap menjadi contoh dalam mempertahankan nilai kemanusiaan serta menolak segala bentuk penindasan antarnegara. Tanpa landasan sejarah yang kuat, menurutnya, diplomasi Indonesia bisa terlihat kurang mantap.
Sebagai pelengkap, Hasto menyampaikan bahwa pemikiran geopolitik Bung Karno, yang dikenal sebagai Progressive Geopolitical Co-existence, sangat relevan dalam mengatasi krisis global saat ini. Konsep ini, menurutnya, berfokus pada koeksistensi damai namun tetap progresif dalam memperjuangkan keadilan sosial untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa sejarah harus menjadi dasar kebijakan luar negeri dan subjek hubungan internasional, bukan sekadar objek yang dipakai untuk kepentingan global.
Kerja sama Asia-Afrika dalam Dasasila Bandung, menurut Hasto, perlu diaktualisasikan kembali untuk menghadapi ketimpangan ekonomi dan dominasi teknologi di era modern. “Bung Karno menciptakan teori geopolitik yang progresif, dengan menegaskan kebutuhan mengubah struktur ekonomi yang menghisap peninggalan kolonialisme menjadi sistem yang mandiri. Inilah yang harus kita lakukan saat ini agar tidak lagi bergantung pada kekuatan asing,” jelasnya.