Historic Moment: Stasiun Lampegan, Titik Kecil yang Menjaga Perjalanan Tetap Terhubung

Stasiun Lampegan, Titik Kecil yang Menjaga Perjalanan Tetap Terhubung

Terletak di tengah hamparan perbukitan Cianjur yang hijau, Stasiun Lampegan memegang peran penting dalam menghubungkan desa-desa dengan kota. Meski terlihat sederhana, stasiun ini memiliki dampak besar bagi masyarakat sekitar, menjadi poros pengangkutan yang mendukung aktivitas sehari-hari. Setiap hari, peron kecil ini menjadi tempat bergeraknya kebutuhan warga, baik untuk bekerja, berdagang, mengurus urusan, maupun kembali pulang ke rumah.

Ka Siliwangi, yang beroperasi antara Cipatat dan Sukabumi (PP), menjadi satu-satunya jalur kereta api yang dilayani stasiun ini. Layanan ini mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mempertahankan keterhubungan dengan pusat aktivitas di sekitar wilayah tersebut. Dalam tiga bulan pertama 2026, jumlah penumpang yang berangkat dari stasiun mencapai 8.482 orang, sedangkan yang tiba mencapai 9.680 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode sama tahun 2025, yaitu sebanyak 7.502 penumpang naik dan 7.589 penumpang turun.

Kenaikan jumlah penumpang sebesar 13,1% untuk arah keberangkatan dan 27,6% untuk arah kedatangan mencerminkan peningkatan permintaan transportasi. Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, menjelaskan bahwa stasiun kecil seperti Lampegan memiliki nilai kehidupan yang sangat dekat dengan masyarakat. “Di sini, perjalanan bukan sekadar alat transportasi, tapi bagian dari rutinitas. Pagi, ada warga yang membawa barang dagangan ke kota. Malam, mereka kembali membawa cerita dan hasil usaha,” ujarnya.

“Pertumbuhan penumpang di Stasiun Lampegan menunjukkan bahwa kereta api masih menjadi pilihan utama bagi warga di berbagai daerah. KAI akan terus menjaga layanan ini agar tetap bisa diakses oleh siapa pun yang membutuhkan,” tutup Anne.

Stasiun Lampegan juga memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang terjaga. Dibangun pada 1879–1882, bangunan ini dianggap sebagai bagian dari warisan perkeretaapian. Gaya kolonial dengan bentuk simetris, jendela besar, dan atap pelana masih terjaga hingga kini. Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur KAI telah menetapkannya sebagai cagar budaya.

Wilayah sekitar stasiun dikelilingi perbukitan, sawah, dan kebun teh yang menghadirkan suasana alam yang nyaman. Kedekatan dengan Situs Gunung Padang memperkaya potensi wisata lokal, terutama pada akhir pekan. Dengan tarif Rp2.000 hingga Rp5.000, layanan ini membuka akses yang terjangkau, memastikan warga tetap terhubung dengan pusat aktivitas, sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan alam.

Dari Stasiun Lampegan, perjalanan terus berlanjut. Setiap gerbong yang berangkat membawa harapan, menyatukan keluarga, dan menghubungkan komunitas. Sebagai titik kecil, stasiun ini menjaga keberlanjutan keterhubungan yang vital bagi masyarakat di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *