Solution For: Tata Cara Tawaf yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah
Tata Cara Tawaf yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah
Memasuki tahun 2026, jika Anda berencana menjalankan ibadah haji atau umrah, pastikan mengetahui cara tawaf yang tepat agar ibadah tersebut dianggap sah. Tawaf merupakan ritual mengelilingi Baitullah atau Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, yang melambangkan putaran alam semesta mengelilingi Arsy. Dalam tawaf, posisi Ka’bah harus berada di sisi kiri tubuh pelaku. Proses ini dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, menjadi bagian penting dari rukun haji dan umrah.
Jenis-Jenis Tawaf dalam Ibadah Haji dan Umrah
Tawaf memiliki beberapa jenis yang dikenal oleh umat Islam, termasuk tawaf rukun haji (tawaf ifadhah), tawaf ziyarah, serta tawaf rukun umrah. Dalam ibadah haji, tawaf wajib dilakukan untuk memastikan kesahihan ibadah, sementara dalam umrah tawaf juga menjadi bagian dari rangkaian ritual. Kedua jenis ibadah ini memiliki persyaratan serupa, namun terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya.
Syarat Sah Tawaf
Untuk tawaf dianggap sah, pelaku harus memenuhi beberapa kondisi. Pertama, dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Kedua, menutup aurat sesuai ketentuan. Ketiga, berada di dalam area Masjidil Haram, termasuk lantai dua, tiga, atau empat, meskipun lokasi yang berada di bagian luas masih dianggap valid. Keempat, tawaf harus dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad atau garis sejajar dengannya. Kelima, posisi Ka’bah selalu di sebelah kiri. Keenam, pelaku harus berada di luar Ka’bah, termasuk Hijir Ismail sebagai bagian dari kompleks Ka’bah. Ketujuh, melakukan tujuh putaran mengelilingi Baitullah. Dan terakhir, membaca niat sebelum memulai tawaf.
Doa Saat Tawaf
Menurut laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), berikut bacaan doa yang perlu diucapkan selama tawaf:
Pada putaran pertama di Hajar Aswad, bacalah tiga kali:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر
Artinya: “Bismillah, Allahu Akbar.” Doa ini diikuti oleh bacaan:
Subhanallah walhamdulillah walaailaaha illaallah wallaahu akbar walahaula walakuwwata illa billahil aliyyil adziim.
Artinya: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, Tiada daya dan kemampuan kecuali bersumber dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”
Putaran kedua dan ketiga memiliki bacaan berbeda, namun tetap mengandung makna yang sama, seperti permohonan keberkahan dan perlindungan dari azab.
Bacaan pada putaran keempat hingga tujuh juga disusun sesuai petunjuk dari sumber-sumber seperti buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah oleh Kementerian Agama RI. Setiap putaran dilengkapi doa yang menggambarkan keiman dan kesalehan kepada Allah.