Main Agenda: Trump Takuti Italia soal Nuklir Iran, Padahal Baru AS Pakai Bom Atom
Trump dan Meloni Tegang Soal Kebijakan Nuklir Iran
Hubungan antara Donald Trump, presiden Amerika Serikat, dan Giorgia Meloni, perdana menteri Italia, terus memburuk. Isu ini muncul dari pernyataan Trump yang dianggap merendahkan Paus Leo XIV, yang kemudian dibela oleh Meloni. Trump menyebut Paus sebagai sosok “lemah” dalam beberapa kesempatan, sementara Meloni menegaskan bahwa Paus memiliki peran penting dalam menyerukan perdamaian dan mengutuk perang, menurut pernyataan yang dikutip dari AFP.
Trump Tegaskan Sikap terhadap Iran
Selain itu, Trump mengkritik kebijakan Meloni yang dinilai kurang mendukung upaya AS untuk membuka Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa perempuan tersebut tidak peduli jika Iran mengembangkan senjata nuklir dan bahkan mungkin menghancurkan Italia dalam hitungan menit jika mendapat kesempatan. “Karena dia tidak ingin membantu kami dengan NATO, dia tidak ingin membantu kami menyingkirkan senjata nuklir,” ujarnya kepada media Italia Corriere della Sera.
“Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah benar serta wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk semua bentuk perang,” kata Meloni.
Sejarah Diplomasi Atom dan Pemaksaan Nuklir
Dalam konteks sejarah, penggunaan senjata nuklir bukan hanya senjata penghancur masal, tetapi juga alat diplomasi. Seperti dijelaskan oleh situs History, diplomasi atom merujuk pada upaya memanfaatkan ancaman perang nuklir untuk mencapai tujuan politik. Setelah uji coba pertama bom atom pada 1945, pemerintah AS segera melihat potensi manfaat non-militer dari monopoli nuklir mereka.
Di Jepang, kota Hiroshima hancur pada pukul 8.15 pagi, 6 Agustus 1945, setelah bom atom “Little Boy” dijatuhkan dari pesawat B29 USAAF “Enola Gay”. Ledakan terjadi sekitar 1.800 kaki di atas permukaan kota, dengan daya ledak setara 12,5 kiloton TNT. Wilayah 5 mil persegi di pusat kota menjadi abu, sementara sekitar 120.000 orang meninggal dalam empat hari pertama setelah ledakan. Banyak korban langsung terkena dampak ledakan, sementara yang lain mati akibat luka bakar atau radiasi.
“Pada pukul 8.15 pagi tanggal 6 Agustus 1945, kota Hiroshima dihancurkan oleh bom atom pertama yang digunakan sebagai senjata perang. Bom tersebut, yang dijuluki ‘Little Boy’, dijatuhkan dari pesawat USAAF B29 ‘Enola Gay’ dan meledak sekitar 1.800 kaki di atas kota. Daya ledaknya setara 12,5 kiloton TNT, menghancurkan 5 mil persegi pusat kota menjadi abu, dengan sekitar 120.000 korban dalam empat hari pertama setelah ledakan,” demikian penjelasan situs History.
Dalam proses pengembangan senjata nuklir AS, Franklin Roosevelt memutuskan tidak mengungkapkan teknologi tersebut kepada Uni Soviet. Setelah Roosevelt wafat, Harry Truman menghadapi pilihan apakah terus merahasiakan informasi nuklir atau mengungkapkannya kepada Stalin. Truman memilih mengumumkan keberadaan bom tersebut di Potsdam, tetapi tidak menyebutkan detail spesifik penggunaannya.
Meski demikian, keberadaan bom atom dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Soviet, sehingga membatasi pilihan mereka. Pada Perang Korea, Truman kembali mengerahkan B29 untuk menunjukkan kemampuan AS dalam melakukan serangan nuklir. Di tahun 1953, Dwight D Eisenhower mempertimbangkan penggunaan paksaan nuklir untuk mempercepat gencatan senjata, namun akhirnya menolak. Dalam dua dekade awal Perang Dingin, diplomasi atom menjadi strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak.
Sejumlah peristiwa seperti Blokade Berlin (1948-49) dan Perang Korea menunjukkan bagaimana AS memanfaatkan ancaman nuklir sebagai alat tekan. Truman, pada masa itu, juga memindahkan B29 ke wilayah Berlin untuk menegaskan kemampuan AS melakukan serangan nuklir. Dalam konteks ini, penggunaan bom atom bukan hanya alat perang, tetapi juga instrumen politik yang memengaruhi dinamika kekuatan global.