Key Strategy: Kenapa AS Selalu Meributkan Nuklir Iran, Tapi Tidak Negara Lain?
Kenapa AS Selalu Meributkan Nuklir Iran, Tapi Tidak Negara Lain?
Sejarah Kolaborasi AS dan Iran dalam Program Nuklir
Sejak berada dalam konflik pasca-revolusi 1979, Amerika Serikat terus menyuarakan kecurigaan terhadap Iran yang diduga sedang mengembangkan senjata nuklir. Serangan-serangan ke negara para mullah seringkali dijelaskan dengan alasan terkait penggunaan nuklir. Namun, fakta menunjukkan bahwa AS sebenarnya pernah mendukung pengembangan program nuklir Iran pada 1957 hingga akhir 1970-an, saat rezim Shah Reza Pahlavi masih berkuasa.
AS Bantu Iran Bangun Infrastruktur Nuklir
Program kerja sama ini dikenal sebagai “Atoms for Peace,” yang diresmikan pada 1957. AS memberikan reaktor riset berkapasitas 5 megawatt-termal (MWt) serta uranium tingkat tinggi ke Teheran pada 1967. Pemerintah Shah juga menyatakan rencana membangun lebih dari 20 reaktor nuklir untuk keperluan energi listrik, seperti diungkapkan laman Arms Control Association.
Alasan AS Menuduh Iran Mengembangkan Senjata Nuklir
Menurut riset “The US-Iran Relations and the Shah’s Nuclear Program (1957-1978)” oleh Sabrina Sergi, bantuan AS bukan hanya untuk meningkatkan kerja sama militer, tetapi juga untuk memastikan arah politik Iran tetap terkendali. Pada masa itu, Iran merupakan eksportir minyak utama, sehingga AS berharap mengontrol politiknya bisa mengamankan kepentingan energi. Selain itu, Ali Vaez dari International Crisis Group mengatakan kebijakan ini bertujuan mengawasi Iran, terutama di sektor nuklir, agar tidak menyusun senjata pemusnah massal.
Kebijakan AS dan Perubahan Rezim Iran
Kebijakan AS terhadap Iran mulai berubah setelah revolusi 1979 menggulingkan Shah. Meski pemerintah baru di Teheran awalnya menentang nuklir karena alasan teologis, aktivitas tersebut perlahan dikembangkan. Setelah kematian Ayatollah Khomeini pada 1989, Ayatollah Ali Khamenei mengarahkan Iran ke jalur peningkatan kemampuan nuklir. Pada 2015, kebijakan AS tetap mengkritik Iran, meski beberapa kemampuan nuklir bisa digunakan untuk program energi damai.
Persepsi dan Kritik dari Pakar
“Memang benar, AS dan sekutunya memiliki alasan khawatir tentang perilaku Iran, seperti dukungan terhadap kelompok teroris seperti Hizbullah. Namun Iran juga memiliki alasan untuk khawatir terhadap keamanannya. Musuh utamanya, AS, selama bertahun-tahun tidak hanya menerapkan kebijakan penahanan ganda terhadap Iran dan Irak, tetapi juga mendukung kelompok-kelompok ekspatriat yang bertekad menggulingkan rezim Teheran, termasuk melalui cara kekerasan,” kata Robert E. Hunter, penasihat senior di Rand Corp.
Kebijakan AS ini dikenal sebagai bagian dari “poros kejahatan” yang menyasar Iran. Meski sah, tindakan tersebut menunjukkan ketegangan yang berkelanjutan, baik dalam politik maupun hubungan militer. Sejak revolusi 1979, Iran tetap rentan terhadap intervensi AS di sekitarnya.