Topics Covered: Di Tengah Gejolak Dunia, Megawati Dorong Konferensi Asia Afrika Jilid II
Di Tengah Gejolak Dunia, Megawati Dorong Konferensi Asia Afrika Jilid II
Ketua Umum Partai Dharma Indonesia (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menekankan perlunya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) Jilid II sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global yang dianggap masih didominasi oleh praktik neo-kolonialisme. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato di acara peringatan 71 tahun KAA, bertajuk “Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini”, yang berlangsung di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4). Megawati menyatakan, kondisi dunia saat ini memerlukan forum internasional baru yang bisa membangkitkan semangat solidaritas antar negara Asia-Afrika.
“Tata dunia saat ini masih dipengaruhi oleh kekuatan neo-kolonial, meski bentuk dan pola kerjanya berubah. Dalam situasi ini, penyelenggaraan KAA Jilid II sangat relevan. Semangat geopolitik Bung Karno menjadi pemandu bagi masa depan bangsa dan dunia,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menurut Megawati muncul sebagai jawaban atas berbagai konflik yang terjadi di dunia dan intervensi terhadap kedaulatan negara-negara lain. Ia menilai sistem global belum sepenuhnya mencerminkan keadilan, sehingga KAA kembali diusulkan sebagai alternatif dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih setara. Konferensi Asia-Afrika 1955 yang diinisiasi Soekarno, kata Megawati, menjadi simbol sejarah dekolonialisasi yang memiliki makna strategis.
Dalam konteks itu, Megawati menyebut bahwa KAA menghimpun 29 negara dengan lebih dari setengah populasi dunia, menciptakan kekuatan demografis besar. Ia juga menyoroti peran KAA dalam melahirkan Gerakan Non-Blok (GNB), yang menjadi wadah konsolidasi negara berkembang untuk melawan hegemoni. “Dari KAA, Indonesia terus berperan aktif dalam membangun persaudaraan dunia, karena bangsa-bangsa yang baru merdeka menghadapi tekanan antara dua blok besar yang saling bertikai,” tambah Megawati.
Konteks Pidato “To Build The World A New”
Nilai-nilai KAA 1955, menurut Megawati, berakar pada Pancasila yang menjadi dasar perjuangan melawan penjajahan dan menumbuhkan persaudaraan global. Ia juga mengaitkan relevansi KAA dengan pandangan Bung Karno dalam pidato “To Build The World A New” di PBB tahun 1960, yang menyerukan reformasi sistem internasional. Ia menekankan bahwa gagasan tersebut masih relevan di tengah ancaman terhadap kedaulatan negara-negara berkembang.
Dalam pidatonya, Megawati mengusulkan pembentukan KAA Plus, forum permanen untuk negara-negara Global South, sebagai upaya mengatasi ketimpangan global. Tujuan utamanya, menurutnya, adalah menciptakan tatanan dunia baru yang berkeadilan, dengan menyeimbangkan aspek materiil dan spiritual. Ia juga menyebut bahwa KAA Jilid II harus membahas masalah bangsa-bangsa yang belum merdeka, seperti Palestina.
Kemudian, Megawati mengingatkan akan dampak global warming dan ekologis yang berpotensi memicu krisis pangan bagi umat manusia. Ia menyoroti penurunan solidaritas internasional yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo, yang terkait dengan ketegangan geopolitik saat ini. Dengan menghadirkan KAA Jilid II, Megawati berharap dapat mengembalikan semangat persatuan dan kesetaraan di antara bangsa-bangsa Asia-Afrika.