Special Plan: Penguatan delapan fungsi keluarga dapat cegah kekerasan seksual

Penguatan Delapan Fungsi Keluarga Bisa Cegah Kekerasan Seksual

Jakarta – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menekankan bahwa memperkuat delapan fungsi keluarga menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan seksual. Fungsi ini dianggap sebagai penjaga ketahanan bagi anggota keluarga, baik anak maupun orang tua, di tengah dinamika sosial yang kompleks.

Komunikasi dan Edukasi Keluarga

“Pelecehan seksual verbal di suatu perguruan tinggi, contohnya, sering bermula dari penggunaan teknologi ponsel. Jika kita tidak memperhatikan dan menganggapnya biasa, kejadian serupa bisa terjadi di mana saja dan kapan saja,” jelas Kepala BKKBN Wihaji dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu.

Dalam upaya menciptakan keluarga yang terencana, sehat, dan berkualitas, pendekatan siklus hidup diterapkan untuk memperbaiki perilaku. Wihaji menekankan bahwa strategi ini tidak hanya rasional, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang bersifat emosional dan humanis.

Ia menambahkan, perlu dilakukan promosi ulang terhadap delapan fungsi keluarga, yaitu agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Peningkatan layanan berbasis fungsi-fungsi tersebut diharapkan memperkuat edukasi melalui tenaga lapangan seperti Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Inisiatif Gempita Lentera Keluarga

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, Wahyuniati, menjelaskan bahwa BKKBN memperkuat delapan fungsi keluarga melalui Gerakan Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat untuk Menuju Indonesia Tangguh (Gempita Lentera Keluarga). Inisiatif ini mencakup kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi keluarga yang berbasis siklus kehidupan, termasuk kesehatan, pengasuhan, dan hubungan yang setara.

“Strategi yang digunakan meliputi pendekatan perubahan perilaku bertahap, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor,” kata Wahyuniati.

Menurutnya, inisiatif ini juga mencakup pelatihan kader sebagai agen perubahan, pendampingan keluarga target, dan penguatan lingkungan sosial yang kontekstual sesuai budaya lokal. Tujuan utama adalah membentuk masyarakat yang lebih tangguh melalui pengaruh positif dari fungsi keluarga yang diperkuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *