Latest Program: Ikhtiar Jakarta entaskan kemiskinan dengan memudahkan akses pendidikan

Jakarta – “Pendidikan merupakan senjata ampuh untuk mengubah dunia” kata mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Vitalnya pendidikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga disuarakan tokoh muslim Afrika-Amerika Malcom X. Malcom X menyatakan pendidikan adalah paspor menuju masa depan, karena hari esok adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini.

Pernyataan kedua tokoh tersebut menggambarkan pendidikan sebagai tulang punggung dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mumpuni di masa depan. Hal ini tentu sejalan dengan target bangsa dalam menciptakan generasi emas Indonesia tahun 2045 sehingga semua harus dipersiapkan sejak dini, terutama sumber daya manusia Indonesia. Untuk meraih masa depan yang paripurna, kuncinya adalah meluaskan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi.

Pemerintah tentu dapat mengintervensi agar pendidikan mudah diakses melalui sejumlah program yang berpihak pada mereka yang kurang beruntung. Konstitusi juga mengamanatkan 20 persen dari APBN atau APBD harus dialokasikan untuk pendidikan yang merupakan kewajiban konstitusional. Hal ini jelas tertuang dalam Pasal 31 ayat 4 UUD 1945 dan pasal 49 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kondisi ini dipahami betul oleh Pemprov DKI Jakarta. Gubenur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno langsung menggebrak dengan sejumlah program kerja yang mengintervensi pendidikan anak-anak Jakarta. Pemprov DKI meluaskan akses pendidikan bagi warga Jakarta yang kurang beruntung merupakan ikhtiar dalam memutus angka kemiskinan atau ketidakberuntungan secara ekonomi yang dialami warga Jakarta.

Pramono paham betul angka gini rasio di DKI Jakarta yang cukup tinggi menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi antara kelas atas dan kelas bawah. Pekerjaan rumah ini kerap mengganggu tidur mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden Joko Widodo tersebut. Pihaknya berikhtiar menciptakan program yang mempermudah warga Jakarta dengan latar belakang ekonomi lemah dalam mengakses pendidikan di berbagai tingkatan.

Sebenarnya konsep ini sudah dipakai oleh para orang tua zaman dahulu. Para orang tua bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka meski di tengah kesulitan ekonomi. Para orang tua zaman dulu harus bekerja keras dan banting tulang di sawah, baik sebagai petani, buruh tani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *