Key Discussion: Kunjungan Kerja BP BUMN dan Danantara ke KAI, Percepat Transformasi Perkeretaapian Nasional

Kunjungan Kerja BP BUMN dan Danantara ke KAI, Percepat Transformasi Perkeretaapian Nasional

Dalam upaya mendorong perubahan besar dalam transportasi massal nasional, BP BUMN dan Danantara melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Bandung pada Senin (20/4). Pertemuan ini berlangsung di Auditorium KAI dan dihadiri oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin serta timnya dalam suasana yang dinamis dan kolaboratif.

Pertemuan Strategis

Dony Oskaria, Kepala BP BUMN sekaligus COO BPI Danantara, menyampaikan bahwa pertemuan menjadi kesempatan untuk menyelaraskan arah pengembangan transportasi massal. Tiga fokus utama dibahas, yakni peningkatan daya dukung layanan, penguatan jaringan, serta dampaknya pada mobilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Transformasi transportasi massal menjadi harapan Presiden Prabowo, dan dalam hal ini KAI diharapkan menjadi lokomotif utamanya. Karena itu, kebutuhan pengembangan KAI perlu disampaikan secara jelas agar kami dapat memastikan dukungan penuh dari Danantara dan BP BUMN, baik dari sisi pendanaan, kebijakan, maupun penguatan ekosistem, sehingga percepatan transformasi perkeretaapian dapat berjalan lebih terarah dan berdampak luas bagi masyarakat,” ujar Dony.

Program Transformasi

Dalam pembahasan, elektrifikasi dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat kapasitas angkutan perkotaan. Program ini mencakup peningkatan kapasitas lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, elektrifikasi lintas Cikarang–Cikampek, serta rencana pengembangan jalur Bogor–Cigombong. KRL, dengan lebih dari satu juta pelanggan per hari, menjadi tulang punggung mobilitas harian, sehingga peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan mendesak.

KAI juga memberikan perhatian pada pengembangan perkeretaapian di luar Pulau Jawa. Misalnya, peningkatan kapasitas angkutan berbasis komoditas di Sumatra, ekspansi jaringan logistik di Kalimantan, serta pembukaan potensi jalur baru di Sulawesi untuk memperluas dampak ekonomi secara nasional.

“KAI memandang perkeretaapian sebagai sistem yang menghubungkan masyarakat, wilayah, dan aktivitas ekonomi. Ketika konektivitas semakin luas, pergerakan masyarakat menjadi lebih mudah dan peluang ekonomi dapat tumbuh lebih merata,” ujar Bobby Rasyidin.

Infrastruktur dan Perkembangan

KAI saat ini mengelola jaringan sepanjang 7.048 km dengan 599 stasiun aktif dan didukung oleh lebih dari 11.000 sarana operasional yang tersebar di berbagai wilayah. Infrastruktur ini menjadi dasar dalam memperluas akses layanan transportasi dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Transformasi yang dijalankan KAI difokuskan pada peningkatan kapasitas serta modernisasi layanan. Dalam sektor perkotaan, jumlah pelanggan KRL diperkirakan meningkat dari sekitar 1,1 juta menjadi 1,4 juta per hari pada 2030. Selain itu, KAI juga mendorong inovasi teknologi dengan mengenalkan Battery Electric Multiple Unit (BEMU) sebagai solusi operasional rendah emisi yang fleksibel untuk jalur belum sepenuhnya terelektrifikasi.

Upaya modernisasi terus diperkuat melalui program peremajaan sarana, termasuk rencana penggantian lokomotif dan peningkatan daya angkut. Langkah ini bertujuan menjawab proyeksi pertumbuhan angkutan penumpang dan barang di masa depan.

“Ketika transportasi massal berkembang dengan baik, akses masyarakat menjadi lebih mudah, distribusi ekonomi semakin lancar, dan kualitas lingkungan dapat terjaga,” tutup Dony.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *