Solution For: Antisipasi kemarau datang lebih awal, ini persiapan kelompok tani di Jakbar

Antisipasi Kemarau Datang Lebih Awal, Ini Persiapan Kelompok Tani di Jakbar

Di tengah prediksi BMKG bahwa musim kemarau 2026 akan lebih dini dibanding tahun-tahun sebelumnya, kelompok tani (Poktan) GSG 07 di Kembangan, Jakarta Barat, tengah melakukan persiapan untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satu anggota, Mulyadi (55), menjelaskan bahwa mereka telah membuat wadah penampung air hujan menggunakan tong sebagai sarana penyimpanan. “Kami telah membuat wadah penampung air hujan, pakai tong, jadi buat nampung air hujan. Airnya bisa digunakan untuk menyiram tanaman yang ada di luar. Ada beberapa wadah yang dibuat di sini, ya buat jaga-jaga aja kalau lagi enggak ada air ya kita siram tanaman pakai air ini,” kata Mulyadi di lokasi, Senin.

Persiapan dan Tantangan dalam Pengairan

Kendati ketersediaan air di lokasi Mulyadi tidak menjadi masalah utama, ia tetap menyiapkan strategi agar tanaman tetap bisa terairi secara teratur. “Karena di sini kalau buat air enggak susah, jadi masih aman,” ungkapnya. Namun, pada musim kemarau, tantangan utamanya adalah pengaturan penyiraman yang rutin. “Yang paling penting sih penyiramannya teratur, itu aja sih. Beda kalau sama lagi musim hujan kan,” jelas Mulyadi.

Pengaruh Kemarau terhadap Tanaman Hidroponik

Ketua Poktan GSG 07, Kasmin, menyatakan bahwa musim kemarau justru memberikan dampak positif bagi pertumbuhan tanaman tertentu, terutama pada tanaman hidroponik. “Kalau kena air hujan kurang bagus ya, terus di semua tanaman juga untuk PH tanahnya kan beda, gitu. Terus kayak di hidroponik itu, di media sini hidroponik semua itu kalau musim panas itu bagus,” kata Kasmin. Ia menambahkan bahwa tanaman seperti Pokcoy dipanen lebih cepat dan hasilnya lebih baik dibandingkan saat musim hujan. “Bedanya satu untuk pertumbuhan. Karena kalau musim hujan emang kurang panas ya. Sedangkan di hidroponik itu emang dia membutuhkan panas,” jelas Kasmin.

Penanaman Beragam dan Dampak pada Petani Padi

Menurut Kasmin, musim kemarau justru menyulitkan petani padi, karena tanaman ini membutuhkan air dari waduk. “Kalau padi kan memang benar-benar membutuhkan air, nah mungkin kekeringan bisa menjadi masalah,” katanya. Di lahan seluas 3.500 meter persegi, warga menanam berbagai jenis sayuran dan juga beternak ikan sebagai bentuk ketahanan pangan. Berbagai tanaman seperti cabai, anggur, labu madu, terong, hingga kacang panjang diproduksi. Sementara itu, ikan lele dan nila menjadi jenis ternak yang dikelola.

Persiapan untuk Ketersediaan Pangan Lokal

Kasmin menuturkan bahwa Poktan GSG 07 khusus dibentuk untuk warga RW 07 di beberapa RT yang ingin belajar bercocok tanam. Hasil panen sayur maupun buah-buahan diutamakan untuk kebutuhan masyarakat sekitar. “Kalau warga luar mau beli di sini juga bisa, tapi memang kami prioritaskan untuk warga sekitar yang ada di kawasan ini,” jelas Kasmin.

Penyebab Musim Kemarau yang Lebih Dini

Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini dipicu oleh dinamika iklim global yang berdampak pada penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan kemarau lebih dini adalah variabilitas iklim Indonesia serta masuknya angin monson Australia. “Faktor utama yaitu variabilitas iklim Indonesia, masuknya angin monson Australia,” kata Ardhasena melalui pesan singkat di Jakarta, Senin. Menurutnya, dampak kemarau terjadi di seluruh wilayah Jakarta. “Seluruh Jakarta terdampak,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *