Special Plan: Meninjau Ulang Perang Bawah Laut: Pelajaran dari Pengalaman Iran

Meninjau Perang Bawah Laut: Refleksi dari Pengalaman Iran

Konflik tidak menunggu analis. Perang di wilayah laut, khususnya persia, terus berlangsung, dan status Selat Hormuz hingga kini masih terbuka untuk pertanyaan. Meski begitu, dinamika yang muncul selama pertarungan ini telah memberikan beberapa kesimpulan tentang efektivitas kapal selam. Bagi negara seperti Indonesia, yang sedang membangun kekuatan laut modern, pengalaman Iran menjadi bahan pertimbangan penting.

Kapal Selam sebagai Pilar Strategi

Iran, sejak awal konflik, menjadi salah satu pengguna kapal selam yang aktif. Negara ini memiliki hampir 15–20 unit kapal selam kelas Ghadir, yang sebagian besar digunakan dalam operasi anti-access/area denial (A2/AD). Tujuan utamanya adalah membatasi akses ke wilayah vital, seperti Selat Hormuz. Namun, kinerja nyata kapal selam Iran belum menunjukkan hasil maksimal.

Dalam praktiknya, unit kelas Ghadir tercatat mengalami kerusakan atau tenggelam sejak permusuhan dimulai. Tidak ada bukti konkret bahwa kapal selam ini berhasil menghambat pergerakan musuh. Justru, keberhasilan Iran datang dari perangkat lain, seperti UUV, USV, ranjau laut, dan IED maritim. Contohnya, saat menargetkan kapal sipil, mereka lebih memilih UUV dibandingkan midget submarine.

Apakah Midget Submarine Efektif?

Sebagai contoh, operasi kapal selam kelas Los Angeles USS Charlotte menunjukkan daya hancur yang signifikan ketika menenggelamkan fregat IRIS Dena di lepas pantai Sri Lanka. Hal ini memicu pertanyaan: apakah midget submarine benar-benar perlu dipertahankan? Meski fungsi utamanya terletak pada operasi khusus, seperti infiltrasi atau penanaman ranjau, kapal selam konvensional tetap memiliki peran yang berbeda.

Program SDV, yang dapat dipasang pada kapal selam, menawarkan keunggulan seperti jangkauan lebih luas dan dukungan tembakan dari kapal induk. Ini membuat midget submarine tidak mungkin menggantikan armada kapal selam utama, meskipun berfungsi sebagai alat tambahan dalam situasi tertentu.

Perspektif Indonesia: Membangun Kekuatan Bawah Laut

Korea Utara, sebagai operator midget submarine terbesar di dunia, mengoperasikan sekitar 70 unit. Namun, efektivitas platform ini bergantung pada konteks geografis. Korea beroperasi di lingkungan pesisir sempit dengan luas area 253.000 km², menghadapi satu musuh utama dalam garis maritim linear. Berbeda dengan Indonesia, yang memiliki domain laut 32 kali lebih luas dan tiga titik leher global, midget submarine mungkin kurang relevan.

Indonesia tidak memulai dari nol. Program Scorpène Evolved, yang sedang dikembangkan di PT PAL Surabaya, akan menjadi fondasi utama kekuatan bawah laut nasional. Dengan daya serang penuh, kapal selam ini diharapkan mampu mengatasi ancaman dari berbagai arah. Dalam konteks ini, midget submarine mungkin tidak cukup untuk menjadi aset utama.

Sehingga, pengalaman Iran mengingatkan bahwa kapal selam konvensional tetap memiliki peran sentral dalam peperangan laut. Mereka mungkin tidak selalu menjadi solusi utama, tetapi tetap esensial untuk mencapai dominasi laut yang lebih luas dan kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *