Harga Emas & Perak Terombang-Ambing Perang – Kepercayaan Sudah Runtuh

Harga Emas dan Perak Mengalami Volatilitas Akibat Perang, Keyakinan Pasar Mulai Pecah

Konflik di Timur Tengah kembali memengaruhi pasar keuangan, dengan kenaikan harga minyak yang signifikan memicu ketakutan tentang inflasi. Dalam situasi ini, harga emas mengalami fluktuasi, baik turun maupun naik, mengikuti dinamika pasar yang berubah-ubah. Meninggalkan perdagangan Senin (20/4/2026), Refinitiv mencatat harga emas mencapai US$ 4819,64, dengan penurunan 0,18%. Namun, pada hari ini, Selasa (21/4/2026) pukul 06.19 WIB, logam mulia tersebut kembali naik ke US$ 4825 per troy ons, dengan kenaikan sebesar 0,11%.

Perang AS-Iran Memperburuk Ketidakpastian Pasar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS menembaki kapal kargo berbendera Iran setelah kapal itu mengabaikan instruksi untuk berhenti saat melewati Selat Hormuz. Teheran merespons dengan menyatakan bahwa kapal-kapal lain menjadi sasaran mereka, serta mempertahankan kontrol atas wilayah strategis tersebut. Pernyataan ini mengingatkan bahwa blokade AS terhadap kapal Iran melanggar perjanjian gencatan senjata.

Meski Trump menyatakan masih ada peluang mencapai kesepakatan sebelum perundingan baru di Pakistan, Iran menganggap harapan tersebut sangat tipis. Konflik yang berlangsung lama telah menciptakan gangguan pasokan energi, meningkatkan risiko inflasi, dan memperkuat kemungkinan bank sentral kembali menaikkan suku bunga. Peristiwa ini memberi tekanan pada harga emas, yang turun hampir 10% sejak awal perang.

“Harga emas turun karena gencatan senjata antara AS dan Iran yang dirayakan pasar minggu lalu mulai terguncang,” kata Ilya Spivak, kepala makro global Tastylive, menurut Reuters. “Kondisi ini membangkitkan kembali tren ‘war trade’ yang telah terjadi sejak awal konflik, dengan kenaikan harga minyak yang memperkuat ekspektasi inflasi serta meningkatkan imbal hasil obligasi dan kekuatan dolar AS.”

Pasangan dolar AS yang menguat berdampak pada harga emas yang dikonversi ke dolar, menjadikannya lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkat, membuat emas yang tidak menawarkan return menarik. Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran di akhir Februari, harga emas telah merosot sekitar 8% karena ketakutan akan inflasi dan peningkatan suku bunga global.

Permintaan Emas Lesu di India, Perak Turun Tajam

Pada Minggu, permintaan emas di India yang biasanya tinggi akibat festival belanja utama terlihat menurun, karena harga mencapai rekor tinggi. Meski demikian, kenaikan tipis dari permintaan investasi tidak cukup menutupi penurunan. Sementara itu, harga perak juga mengalami penurunan tajam, dengan Refinitiv mencatatkan harga perak di US$ 79,91 pada Senin (20/4/2026), menurun 1,09%.

Pada hari ini, Selasa (21/4/2026) pukul 06.24 WIB, harga perak stagnan di US$ 79,91 per troy ons, dengan peningkatan minimal 0,006%. Fluktuasi ini mencerminkan ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh perang dan persaingan harga antar logam mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *