AS-Iran Panas Lagi – Ini Update Kapal-Kapal di Selat Hormuz
Iran Kembali Memanas, Pelayaran di Selat Hormuz Mengalami Gangguan
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencapai puncaknya, mengakibatkan ketidakstabilan pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Setelah mengalami peningkatan signifikan pada akhir pekan, arus barge menurun drastis setelah serangan terhadap beberapa kapal komersial. Data dari LSEG menunjukkan 20 kapal, termasuk tanker minyak, kargo curah, dan kontainer, melewati selat pada Sabtu. Salah satunya adalah tanker besar FPMC C Lord yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi ke Taiwan.
Situasi Memburuk Pasca Serangan
Minggu berikutnya, lalu lintas kapal nyaris terhenti setelah insiden serangan memicu kekhawatiran keamanan di kawasan strategis tersebut. Harga minyak dunia langsung merespons, naik sekitar 6% pada Senin karena penurunan aktivitas bermuatan. Hanya tujuh kapal yang melewati Selat Hormuz pada hari itu, sedikit lebih tinggi dari hari sebelumnya, tetapi masih jauh dari tingkat normal.
Iran sebelumnya membuka Selat Hormuz untuk operasi komersial setelah gencatan senjata di Lebanon yang dijembatani AS. Namun, Teheran kembali menutup jalur tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menolak mencabut pembatasan terhadap pelabuhan Iran. Tegangan memuncak saat Garda Revolusi Iran melaporkan menembaki kapal tanker pada Sabtu, sementara proyektil tak teridentifikasi menghantam kapal kontainer, menurut laporan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
“Kami sangat prihatin karena dua kapal berbendera India menjadi korban serangan di kawasan ini,” kata perwakilan pemerintah India, seperti dikutip CNBC International, Selasa (21/4/2026).
Respons Militer AS dan Aktivitas Kapal
Angkatan Laut AS meningkatkan operasi, menembaki kapal kargo Iran di Teluk Oman pada Minggu. Marinir lalu mengambil alih kendali kapal tersebut, yang dianggap mencoba menerobos blokade laut Washington. Dari data AFP, sebelum Iran menutup kembali jalur pada Sabtu, ratusan kapal komersial melewati selat. Namun, Minggu hanya empat kapal yang berhasil menyeberang ke kedua arah, menurut Kpler.
Selasa (21/4/2026), kapal Nova Crest berbendera Iran yang dikenai sanksi AS meninggalkan Teluk sekitar pukul 04.00 GMT. Barge tersebut melanjutkan perjalanan melalui Teluk Oman, menurut Marine Traffic. Iran juga memperbolehkan kapal tanker gas Axon I yang dikenai sanksi untuk masuk ke Teluk, dengan rute ke Uni Emirat Arab (UEA) yang disebut “tidak tunduk pada blokade AS”.
Kapal lain, Starway berbendera Panama, dari perusahaan Hechuang International Group, berlayar ke arah barat pada Senin pukul 08.00 GMT, lalu berbalik arah sekitar pukul 12.00 GMT dan terakhir terdeteksi kembali ke Selat Hormuz. Sementara itu, kapal kontainer CMA CGM Everglade berbendera Prancis dilaporkan mengalami kerusakan pada beberapa kontainer akibat proyektil tak teridentifikasi, menurut UKMTO. Bloomberg mencatat lebih dari 750 kapal komersial mengirimkan sinyal dari dalam Teluk pada Minggu, dengan sekitar 350 di antaranya sebagai tanker minyak atau gas.
Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Global
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama sekitar 20% pasokan minyak dunia, kembali menjadi fokus perhatian. Gangguan kecil di kawasan ini bisa memicu fluktuasi signifikan harga energi global. Dengan kejadian-kejadian terbaru, keamanan di Selat Hormuz semakin terancam, menggarisbawahi kerentanan stabilisasi geopolitik di daerah strategis tersebut.