Akademisi: Hari Kartini dorong peran ibu tangkal disinformasi
Akademisi Minta Peran Ibu Dipertahankan dalam Menghadapi Disinformasi Digital
Kupang, NTT (ANTARA) – Di tengah perkembangan teknologi digital, akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Pabha Swan menekankan pentingnya peran ibu dalam mengatasi disinformasi. Menurutnya, Hari Kartini yang dirayakan setiap 21 April menjadi momentum untuk menyoroti kontribusi perempuan, khususnya ibu-ibu, dalam menjaga kualitas informasi yang diterima keluarga.
Pengajar Ilmu Komunikasi di Undana: Etika Bermedia Harus Diperhatikan
Maria, yang juga bertindak sebagai Koordinator Wilayah Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Kota Kupang, menyampaikan bahwa perempuan berperan sebagai pelindung utama dalam keluarga. Sebagai pendidik pertama anak-anak sebelum masuk pendidikan formal, mereka memiliki tanggung jawab untuk menyaring berita sebelum disebarkan. “Ibu harus memiliki kemampuan intelektual dan literasi digital yang baik agar bisa melindungi keluarga dari hoaks,” ujarnya.
“Dalam semangat Kartini di era digital, peran perempuan bisa diibaratkan sebagai penjaga gawang. Mereka mengendalikan aliran informasi, baik yang benar maupun salah, agar tidak merusak pemahaman anak,”
Karena tingkat penggunaan media sosial yang tinggi, Maria menekankan bahwa perempuan perlu menjaga etika dalam berbagi konten. Ia mengingatkan untuk menghindari kebiasaan over sharing, terutama terkait informasi anak. “Banyak orang tergoda membagikan semua aktivitas karena tren seperti monetisasi atau For Your Page (FYP), tapi tidak semua konten layak diumumkan,” tegasnya.
“Anak bukan objek konten. Mereka perlu dilindungi dari risiko cybercrime yang semakin mengancam,”
Maria juga mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip “saring sebelum sharing.” Ia menekankan pentingnya memverifikasi sumber informasi sebelum membagikannya. “Jika ragu, sebaiknya tidak diteruskan. Hoaks bisa menyebar cepat jika tidak dicegah sejak awal,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti perluasan literasi digital sebagai bagian dari semangat Hari Kartini. “Jika dulu dikenal dengan ‘habis gelap terbitlah terang’, sekarang diharapkan terwujud ‘habis hoaks terbitlah cek fakta’,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kejahatan siber dan misinformasi, Maria berharap ibu-ibu tidak hanya menjadi pendorong emansipasi perempuan, tetapi juga pelaku pendidikan digital yang tangguh. Ia menilai etika dan keamanan dalam penggunaan media sosial harus menjadi prioritas bagi semua pengguna, terutama dalam melindungi kepentingan keluarga.