Key Issue: POGI: Peluncuran R-PRIN di Hari Kartini upaya berdayakan perempuan
POGI: Peluncuran R-PRIN di Hari Kartini upaya berdayakan perempuan
Di Hari Kartini 2026, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menghadirkan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) sebagai pusat integrasi edukasi, layanan medis, dan pemberdayaan perempuan. Langkah ini bertujuan memperkuat gerakan Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN) menjadi wadah perubahan nasional.
Kondisi Kesehatan Perempuan di Indonesia
Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, dr. Budi Wiweko, menjelaskan bahwa SPRIN muncul sebagai respons terhadap angka kematian ibu (AKI) yang tinggi dan ancaman penyakit yang dapat dicegah. “Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau masa nifas,” kata dia. “Ribuan perempuan lainnya kehilangan nyawa karena penyakit yang bisa dideteksi lebih dini.”
“Tanpa intervensi massif dan terstruktur, kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan perempuan, tetapi juga mengancam kualitas generasi dan masa depan bangsa,” tambah dr. Budi.
Menurut data terkini, AKI Indonesia masih mencapai 189 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadikannya salah satu angka tertinggi di Asia Tenggara. Sementara itu, kasus kanker serviks setiap tahun mencapai lebih dari 36 ribu, dengan 21 ribu kematian, atau satu perempuan meninggal setiap 25 menit.
Faktor Pendorong Masalah
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai tantangan, seperti akses layanan kesehatan yang tidak merata, kesenjangan wilayah, serta norma sosial yang membatasi perempuan. Stigma dan kekerasan berbasis gender menyebabkan banyak kasus terdeteksi terlambat, hingga stadium komplikasi.
Langkah Strategis untuk Perubahan
POGI mengharapkan SPRIN berkembang menjadi gerakan lintas sektor, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. “Kesehatan perempuan bukan isu sektoral, tetapi fondasi pembangunan nasional,” tegas dr. Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengapresiasi inisiatif POGI. Menurutnya, perempuan yang mandiri adalah pondasi masa depan bangsa yang lebih baik. “Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, semuanya dimulai dari keluarga, khususnya ibu,” ujarnya.