Meeting Results: Kemenpar dorong Kartini masa kini dalam gastronomi Indonesia
Kemenpar Dorong Peran Perempuan dalam Pengembangan Wisata Gastronomi Indonesia
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menekankan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor wisata gastronomi, khususnya perempuan, sebagai faktor kunci dalam memperkuat daya saing pariwisata nasional. Perayaan ini dianggap sebagai kesempatan untuk memperlihatkan peran strategis perempuan dalam membentuk pengalaman kuliner yang berstandar internasional.
Peran Perempuan dalam Rantai Nilai Gastronomi
Momen ini menegaskan bahwa perempuan memiliki kontribusi dominan di seluruh proses gastronomi, mulai dari produksi, pengolahan, hingga penyajian makanan. Dengan penguatan kapasitas SDM perempuan, Kemenpar berharap mempercepat transformasi pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, kemampuan para penjamah makanan, atau food handler competency, dianggap sangat berpengaruh dalam menjaga keamanan pangan di berbagai tempat seperti restoran, kafe, atau pasar kuliner.
“Kompetensi penjamah makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi keamanan pangan di restoran, street food, maupun hotel. Pelatihan terkait higiene personal, sanitasi fasilitas, serta penanganan makanan yang aman harus menjadi prioritas utama,” ujar I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kemenpar, dalam keterangan pers, Selasa.
Transformasi Industri Hospitality yang Berkelanjutan
Pada acara diskusi strategis “Ruang Diskusi Strategis” dengan tema “Peran Perempuan dalam Strategi Pengembangan Wisata Gastronomi Indonesia” yang digelar di Politeknik NHI Bandung pada 7 April 2026, Dewi menekankan bahwa SDM gastronomi juga perlu diberi pemahaman tentang keberlanjutan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada penggunaan bahan lokal, tetapi juga mencakup efisiensi energi, pengelolaan limbah, pengurangan food waste, dan penerapan praktik ramah lingkungan.
“Integrasi antara higienitas dan keberlanjutan akan menghasilkan produk kuliner yang tidak hanya aman, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutur Dewi.
Di Indonesia, prinsip keberlanjutan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mendorong konsep green gastronomy di restoran, pasar kuliner, dan destinasi wisata. Penguatan SDM berbasis higienitas dan keberlanjutan diyakini mampu memberikan dampak luas bagi ekosistem gastronomi Indonesia. SDM yang kompeten akan mendorong destinasi kuliner nasional memiliki daya saing global serta mewujudkan pengalaman makan yang aman, autentik, dan sesuai standar internasional.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi mendukung visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam sektor pariwisata. Dewi menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri pariwisata akan membantu mengembangkan destinasi gastronomi yang unggul secara higienis, ramah lingkungan, dan mencerminkan identitas kuliner Indonesia.