Topics Covered: Tota Oceanna, Kartini yang hadirkan sekolah anak miskin di Pulau Timor

Tota Oceanna, Kartini yang Hadirkan Sekolah Anak Miskin di Pulau Timor

Jakarta – Komitmen dan kemampuan kepemimpinan Tota Oceanna Zonneveld dalam memperkenalkan program pendidikan nasional guna mengatasi kemiskinan di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, menjadi contoh semangat perjuangan perempuan seperti RA Kartini. Sebagai Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial, ia memainkan peran penting dalam mendorong pembangunan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, satu dari 100 sekolah rintisan nasional yang dibuka pada tahun 2025. Sekolah berbasis asrama ini beroperasi di Sentra Efata yang menempati lahan seluas 12 hektare di Naibonat, Kabupaten Kupang.

Dalam upaya ini, Tota memastikan semua rancangan program berjalan lancar, terlepas dari segala tantangan, demi memberikan akses pendidikan yang layak kepada anak-anak dari keluarga paling rentan. Kontribusinya tidak hanya terbatas pada tugas administratif biasa, tetapi juga mencakup pengembangan ekosistem pendukung sekolah selama masa persiapan intensif dari Februari hingga Juni 2025. Ia bekerja sama dengan staf Sentra Efata serta Dinas Sosial Kabupaten Kupang untuk menyusun kerangka kerja yang menyeluruh.

Salah satu tantangan utama adalah menjaring siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan. Tota mengkoordinasikan tim untuk mengunjungi 14 kecamatan, termasuk pulau-pulau terpencil, guna memverifikasi kondisi keluarga secara langsung. Proses ini bukan sekadar urusan di balik meja, tetapi melibatkan perjalanan panjang di tengah suhu udara mencapai 33 derajat Celsius. Dari 10.000 anak keluarga prasejahtera, ia memimpin seleksi untuk menentukan 100 individu pertama yang layak mendapatkan kesempatan belajar.

“Intervensi harus menyentuh akar masalah melalui penguatan kualitas manusia,” ujar Tota, yang juga mengupas urgensi pendidikan gratis ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per April 2026, tingkat kemiskinan di Kabupaten Kupang mencapai 20,32 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 8,57 persen. Angka ini terkait erat dengan jumlah anak putus sekolah di tingkat SD-SMP yang mencapai belasan ribu orang. Dengan kehadiran SRMP 19, harapan baru muncul untuk memutus siklus kemelaratan melalui pendidikan.

Di bawah bimbingan Tota, manajemen sekolah kini stabil dan terstruktur rapi. Kepemimpinan seorang kepala sekolah yang sebelumnya menjalani pelatihan khusus oleh Kementerian Sosial di Jakarta menjadi dasar keberhasilan operasional SRMP 19. Proses verifikasi data siswa yang akurat menjadi prioritas, dengan kerja sama ketat dari tim penyaringan yang menyisir berbagai pelosok desa.

Kepemimpinan Tota diuji dalam pembekalan teknis yang dilakukan kurang dari empat bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ia aktif dalam rapat koordinasi nasional selama lima bulan, memastikan segala persiapan fasilitas, kesehatan, dan nutrisi calon peserta didik terpenuhi. Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang bantuan sementara, tetapi perubahan jangka panjang yang mampu mengubah nasib generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *