Visit Agenda: Pascasidak Prabowo, akademisi sebut stok beras nasional valid

Pascasidak Prabowo, Akademisi Beri Penjelasan Soal Stok Beras Nasional

Jakarta (Antara) – Profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanto Siregar, menyatakan data stok beras nasional telah diverifikasi langsung oleh pemerintah, sehingga dapat dipercaya. “Data yang diberikan pemerintah, termasuk dari Kementerian Pertanian dan Bulog, dianggap akurat,” tutur Hermanto dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa. Ia merujuk pada inspeksi mendadak yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto ke gudang Perum Bulog di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4).

Kondisi Gudang dan Validitas Data

Dalam kunjungan tersebut, Prabowo menemukan gudang yang penuh dengan beras, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 7.000 ton. Selain itu, ia menyebut sidak tersebut membenarkan informasi tentang cadangan pangan yang selama ini diterbitkan pemerintah, sekaligus membantah ketidakpercayaan terhadap capaian swasembada pangan nasional.

“Jika sidak dilakukan secara mendadak, hasilnya tidak bisa dipalsukan. Data Presiden menunjukkan bahwa gudang benar-benar penuh, sehingga kunjungan itu bisa dianggap sebagai verifikasi langsung kondisi lapangan,” ujarnya.

Hermanto menambahkan, risiko pemalsuan data pangan tinggi karena dampaknya langsung terasa di masyarakat. Oleh karena itu, ia yakin angka stok beras yang diberikan mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Menurutnya, angka 4,8 juta ton tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil perhitungan yang terukur.

Mekanisme Pengelolaan Stok

Stok tersebut berasal dari akumulasi cadangan sebelumnya, dikurangi distribusi, serta ditambah hasil panen yang berlangsung sejak awal 2026. “Panasen masih berlangsung hingga April ini, artinya stok beras akan terus bertambah, terutama saat musim panen mencapai puncaknya pada April-Mei,” kata Hermanto.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Bulog mengatur stok berdasarkan siklus musim tanam. Saat panen, institusi ini menyerap gabah atau beras dari petani untuk memperkuat cadangan. Jika pasokan di pasar menurun, Bulog mengadakan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga dan kebutuhan masyarakat.

Peluang Tidak Impor Beras

Dengan stok beras hingga 4,8 juta ton, Hermanto menyatakan peluang Indonesia tidak membutuhkan impor beras tahun ini cukup besar. Namun, ia mengingatkan bahwa hal ini bergantung pada kondisi iklim. “Jika iklim tidak ekstrem, misalnya tidak terjadi El Nino yang berat, maka peluang swasembada pangan sangat terbuka. Apalagi masih ada panen di Agustus yang bisa meningkatkan cadangan,” katanya.

Hermanto juga menilai sidak Presiden menjadi langkah penting untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap data pangan. “Kunjungan langsung tersebut membantu memastikan ketersediaan beras dan upaya swasembada pangan tidak diremehkan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *