Special Plan: AS Dapat Saingan Kuat, Rusia Mulai ‘Cawe-Cawe’ Nuklir Iran
AS Kini Menghadapi Tantangan Besar, Rusia Mulai Memainkan Peran Mediasi dalam Isu Nuklir Iran
Negosiasi antara Iran dan AS masih terhambat oleh progres program nuklir Iran serta jumlah uranium diperkaya yang dimilikinya. Laporan dari Russia Today, Senin (20/04/2026), menyebutkan bahwa Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan mengenai masa depan stok material berbahaya tersebut saat gencatan senjata sementara hampir berakhir.
Kondisi Uranium Iran
Iran memegang simpanan uranium yang diperkaya hingga 60%, dengan lebih dari 400 kg yang ditemukan dalam laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Mei 2025. Selain itu, negara itu juga menyimpan hampir 300 kg uranium diperkaya 20%, serta 5,5 ton uranium 5% dan 2,2 ton uranium 2%. Meski belum mencapai tingkat senjata, secara teknis pengayaan ke level 60% bisa selesai dalam beberapa hari dengan peralatan yang tepat.
Perbedaan Pandangan AS dan Iran
Washington menuntut Teheran untuk menyerahkan seluruh uranium diperkaya, membongkar infrastruktur, dan menghentikan program nuklir secara permanen. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat sipil dan menolak klaim bahwa mereka sedang membangun senjata nuklir.
“Debu nuklir” Iran, seperti disebut Presiden Donald Trump, tetap berada di fasilitas yang dibom AS pada Juni 2025.
Keberadaan Stok Uranium
Posisi stok uranium Iran masih diperdebatkan karena kurangnya penilaian independen. IAEA mengatakan kehilangan “kontinuitas pengetahuan” setelah Teheran mematikan kamera pemantau di lokasi nuklir pada Juni 2022. Laporan Le Monde menunjukkan kemungkinan Iran telah memindahkan uranium ke bawah tanah Isfahan sebelum serangan AS pada Juni 2025, berdasarkan citra satelit yang menunjukkan truk pengangkut kontainer radioaktif.
Rusia Tawarkan Solusi Kompromi
Rusia secara aktif menawarkan solusi untuk mengatasi konflik ini. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Moskow telah mengusulkan penampungan uranium Iran sejak lama. Peskov menilainya sebagai “solusi yang sangat baik,” tetapi dianggap ditolak oleh AS.
“Membongkar stok uranium adalah langkah yang tidak bisa dinegosiasikan,” kata Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Senin (20/04/2026).
Kepala perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, Aleksey Likhachev, menegaskan bahwa pihaknya siap bantu pemindahan stok uranium Iran. Ia menyebut Rusia sebagai satu-satunya negara yang memiliki pengalaman baik dalam berinteraksi dengan Iran terkait isu ini. Meski ada ketegangan, Rusia masih memberikan tawaran tersebut sebagai alternatif untuk meredakan krisis Timur Tengah.