New Policy: Pakar Iran sebut Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi semula

Pakar Iran Sebut Selat Hormuz Tidak Akan Kembali ke Kondisi Semula

Dari Teheran, seorang ahli kebijakan luar negeri Iran menegaskan bahwa situasi di kawasan Asia Barat dan Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya. Dalam wawancara terbaru dengan Xinhua, ia menyebutkan bahwa serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengubah dinamika politik dan militer wilayah tersebut, memicu kegelisahan di kalangan pihak internasional.

Iran Tidak Menunjukkan Tanda-Tanda Kekacauan

Abas Aslani, pakar yang berbasis di Teheran, menuturkan bahwa Iran tetap kokoh meski menghadapi tekanan besar dari AS dan Israel. Ia menjelaskan bahwa negara itu tidak menunjukkan kelemahan, bahkan menegaskan bahwa upaya pihak asing untuk meruntuhkan kemampuan militer dan infrastruktur Iran belum membuahkan hasil signifikan.

“Tujuan mereka adalah membuka kembali Selat Hormuz, tetapi serangan terhadap fasilitas sipil Iran justru menunjukkan kegagalan mereka mencapai sasaran militer dan strategis,” ujar Aslani.

Serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu mengenai Teheran serta kota-kota Iran lainnya menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei, dan sejumlah komandan militer senior. Tindakan ini, menurut Aslani, merupakan bentuk kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional.

Menurutnya, pihak AS dan Israel menargetkan infrastruktur vital Iran, seperti fasilitas energi, ilmu pengetahuan, medis, serta industri. Ini menunjukkan bahwa upaya mereka untuk mengubah tatanan politik dan menghancurkan kemampuan negara itu masih belum berhasil. Bahkan, fasilitas nuklir damai Iran, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, menjadi sasaran serangan, yang bisa berdampak serius jika terjadi kerusakan parah.

Iran mengambil langkah balasan dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Pihaknya juga menargetkan infrastruktur sipil dan energi di berbagai wilayah, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terus berlangsung, mencakup universitas, kompleks petrokimia, jalan raya, rel kereta, jembatan, dan pusat penelitian.

“Serangan ini bertujuan membebani masyarakat Iran, menekan kemampuan negara, serta menghambat tata kelola pemerintahan,” tambah Aslani.

Menurut Aslani, perang ini membuktikan bahwa rencana AS untuk mengubah struktur politik Iran dan menghancurkan infrastruktur negara itu gagal. Ia membandingkan strategi AS dengan pendekatan terhadap Venezuela, tetapi realitas di lapangan justru berbeda. Dalam beberapa minggu terakhir, Iran terus menunjukkan kemampuan militer, menargetkan jet tempur Amerika, dan bergerak aktif dalam konflik.

Perkembangan terakhir diyakini Aslani akan memengaruhi pasar energi global dan kredibilitas AS dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa tindakan agresif terhadap Iran bukan hanya mengubah dinamika regional, tetapi juga menimbulkan efek domino yang luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *