New Policy: Menyapu ikan sapu-sapu, dilema sang hama bernilai ekonomi

Menyapu Ikan Sapu-Sapu, Dilema Hama yang Juga Berkontribusi Ekonomi

Jakarta – Di tengah aliran Sungai Ciliwung, Kalibata, Jakarta Selatan, terdapat kisah warga yang menggantungkan kehidupan dari ikan sapu-sapu. Meski bagi sejumlah pihak, ikan ini dianggap sebagai hama yang merusak ekosistem, bagi nelayan seperti Ajum (39), sapu-sapu justru menjadi penghasil pendapatan utama. Kehidupan mereka sangat bergantung pada kondisi air sungai. Saat debit air stabil, hasil penangkapan bisa cukup menguntungkan. Namun ketika banjir datang, penghasilan langsung turun drastis.

Ketika air mengalir deras, hasil tangkapan bisa jadi hanya 10 kilogram per hari. Kadang kita harus menahan diri karena risiko besar, kata Ajum saat berada di bantaran Sungai Ciliwung.

Dalam situasi normal, Ajum mampu mengumpulkan sekitar 15 kilogram ikan sapu-sapu setiap hari. Namun, saat air meninggi dan aliran menjadi lebih kencang, jumlah ikan yang berhasil ditangkap berkurang drastis. Harga ikan sapu-sapu saat ini berkisar antara Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Meski terlihat menguntungkan, pendapatan nelayan tetap tidak pasti.

Di saat musim kemarau, pendapatan bisa habis dalam sehari hingga Rp100 ribu sampai Rp150 ribu, tergantung kondisi. Kata Ajum, upaya pembersihan ikan sapu-sapu tetap penting, meski tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya.

Ajum menjelaskan bahwa ia harus menyusuri aliran sungai selama lima hingga enam jam sehari. Aktivitas ini dimulai di sore hari hingga malam, menggunakan ban sebagai alat bantu untuk mengapung di tengah arus. Meski memiliki risiko, seperti arus deras atau kayu hanyut, ia tetap melanjutkan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Produk ikan sapu-sapu yang ditangkap kemudian dijual ke pengepul untuk diolah menjadi cilok, nugget, otak-otak, dan kerupuk. Di sisi lain, ikan ini juga disebut sebagai hama yang bisa merusak tanggul dan menggerogoti ikan lokal serta telurnya. Dilema terus terasa: bagaimana mengatur antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Kemampuan Berkembang Biak yang Tinggi

Ajum menyadari bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat. Satu induk bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan telur dalam sekali bertelur. “Satu ekor ikan mampu menghasilkan ribuan anak ketika menetas,” katanya. Hal ini membuat populasi ikan tetap bertahan meski terus ditangkap.

Ia mengibaratkan upaya pemberantasan sapu-sapu seperti menangani nyamuk. “Kalau dibasmi, pasti muncul lagi,” ujarnya. Meski begitu, Ajum tetap menekankan pentingnya menjaga kebersihan sungai. Ikan yang mati dan tidak diambil bisa mencemari air.

Pandangan dari Pegiat Lingkungan

Menurut Arief Kamarudin, seorang pegiat lingkungan, tindakan pemerintah membersihkan ikan sapu-sapu sangat positif untuk menjaga keseimbangan ekosistem. “Gerakan itu membuktikan perhatian terhadap lingkungan, dan saya mendukung,” katanya. Ia menegaskan bahwa sapu-sapu termasuk spesies invasif yang bisa mengganggu ekosistem jika tidak dikendalikan.

Arief juga mengingatkan bahwa masalah lingkungan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor. Selain sapu-sapu, Sungai Ciliwung menghadapi tantangan seperti sampah dan limbah. “Bukan hanya ikan invasif, ada sampah dan limbah yang juga memengaruhi ekosistem,” ujarnya. Ia menekankan bahwa edukasi masyarakat diperlukan untuk mengatasi sampah yang terus berulang.

Langkah pembersihan sapu-sapu tetap penting, meski masalah sampah belum sepenuhnya terselesaikan. “Kalau ikan diambil, jumlahnya pasti berkurang. Tapi semua masalah harus diperbaiki secara bersamaan,” tambah Arief. Dengan edukasi, ia berharap kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan bisa meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *