Latest Program: RI-UE perkuat kolaborasi cetak insinyur guna atasi limbah elektronik
RI-UE Perkuat Kerja Sama Cetak Insinyur untuk Mengatasi Limbah Elektronik
Di Jakarta, pemerintah Indonesia dan Uni Eropa (UE) memperkuat kerja sama penelitian dalam bidang pengelolaan sampah elektronik serta pengembangan sumber daya manusia untuk mencetak insinyur yang memahami teknologi ramah lingkungan dan memiliki standar internasional. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, dalam Forum Kolaborasi Sains dan Teknologi Indonesia – Uni Eropa, menyoroti pentingnya menciptakan insinyur berwawasan hijau sebagai bagian dari upaya menghadapi peningkatan sampah elektronik di Tanah Air.
Peran Insinyur dalam Daur Ulang Limbah
Kebutuhan pengelolaan sampah elektronik yang semakin mendesak mendorong kolaborasi untuk meneliti sistem daur ulang yang efektif. Brian Yuliarto menekankan bahwa alat elektronik yang tidak lagi dipakai perlu diintegrasikan ke dalam ekosistem daur ulang, agar tidak merusak lingkungan dan bisa menjadi sumber pendapatan. “Kami akan menjadikan penelitian tentang daur ulang limbah elektronik sebagai topik utama, sementara juga melibatkan topik seperti daur ulang limbah industri dan baterai,” kata dia.
“Kami menantikan kerja sama dengan Indonesia, agar dapat mempromosikan 1.000 insinyur hijau dan memastikan mereka berkontribusi untuk masa depan, bukan hanya bagi Eropa dan Indonesia, tetapi juga untuk seluruh dunia,” ujar Duta Besar UE Denis Chaibi.
Adapun program kerja sama strategis ini tidak hanya mencakup riset bersama, tetapi juga pengembangan kapasitas insinyur lokal melalui pendanaan riset gabungan. Selain itu, terdapat fasilitasi pendidikan tingkat doktoral (S3) dengan model pembelajaran lintas negara, meliputi Indonesia, Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Melalui program mobilitas akademik serta pendanaan riset, insinyur dari Indonesia diharapkan bisa memperoleh keahlian global untuk diterapkan dalam pengembangan industri ramah lingkungan di dalam negeri.