Main Agenda: Pakar: Masalah Pendidikan RI Bukan Sekolahnya, Tapi Cara Pandang Orang
Pakar: Persoalan Pendidikan RI Tidak Hanya Sekolah, Tapi Pandangan Masyarakat
Jakarta, Masalah pendidikan di Indonesia tidak hanya terkait dengan sekolah atau akses belajar, tetapi lebih pada paradigma masyarakat tentang makna pendidikan itu sendiri. Banyak individu masih mempersepsikan pendidikan sebagai sesuatu yang identik dengan sistem sekolah formal. Padahal, proses belajar justru mencakup lingkup yang lebih luas, mencakup kegiatan di luar ruang kelas.
Pendidik dan pelopor gerakan Semua Murid Semua Guru, Najelaa Shihab, mengatakan bahwa perubahan sikap masyarakat diperlukan agar pendidikan bisa selaras dengan tuntutan zaman. Ia menjelaskan, hingga kini pendidikan sering dianggap sebagai pencapaian akademik dalam ruang kelas, padahal berbagai komunitas dan inisiatif non-formal turut berperan penting dalam membentuk kemampuan dan karakter siswa.
“Upaya yang dilakukan bukan sekadar capaian akademik, melainkan perubahan perilaku dan kontribusi nyata terhadap ekosistem yang lebih luas,” ujarnya dalam konferensi pers Belajarraya Jakarta 2026 di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Kebutuhan akan keterampilan terus berubah seiring kemajuan teknologi dan transformasi dunia kerja. Ini membuat proses belajar tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga bisa dilakukan melalui komunitas, platform digital, serta kerja sama lintas sektor.
Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Rizki Ameliah, menegaskan bahwa pendidikan saat ini sangat dinamis dan tidak bisa lagi diatur sendirian oleh satu pihak. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu bergerak bersama dengan komunitas, swasta, dan akademisi,” katanya.
Gerakan Komunitas Peran Besar dalam Membentuk Pendidikan
Dalam praktiknya, inisiatif berbasis komunitas mulai menunjukkan dampak signifikan. Jaringan Semua Murid Semua Guru, contohnya, kini melibatkan lebih dari 1.000 komunitas pendidikan di berbagai daerah yang mendorong inovasi belajar di luar sistem formal. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan tidak hanya terpusat di kota besar atau institusi resmi, tetapi juga berkembang secara lebih luas dan inklusif di seluruh wilayah.
Untuk mendorong transformasi ini, berbagai pihak semakin memperkuat kerja sama lintas sektor melalui ruang pertemuan publik. Salah satu contoh adalah festival pendidikan Belajaraya Jakarta 2026 yang akan digelar pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Acara ini dirancang sebagai wadah kolaborasi antara pendidik, komunitas, pemerintah, hingga sektor swasta untuk membahas masa depan pendidikan Indonesia. Lewat pendekatan ini, harapan adalah pendidikan tidak lagi dilihat sebagai aktivitas di ruang kelas, melainkan sebagai proses belajar sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak.