Main Agenda: BI perkuat struktur bunga SRBI guna stabilisasi nilai tukar rupiah

BI Modifikasi Skema Bunga SRBI untuk Mempertahankan Kestabilan Nilai Tukar Rupiah

Dalam upaya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian terhadap skema bunga instrumen moneter pro-market, yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tindakan ini, dijelaskan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Rabu, bertujuan untuk menarik arus dana asing ke dalam negeri.

Menurut Perry, penyesuaian struktur bunga SRBI dalam sebulan terakhir telah menunjukkan hasil. Hal ini berdampak positif pada aliran modal ke pasar keuangan, termasuk ke SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), yang secara bersamaan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta ketahanan sektor eksternal terhadap tekanan global.

“Setelah kami mengawali penyesuaian bunga SRBI secara bertahap pada Januari, Februari, dan Maret, inflow dari investor asing mencapai Rp32,5 triliun,” kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.

Sementara itu, Destry juga menyoroti kenaikan signifikan instrumen operasi moneter valuta asing Bank Indonesia, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), yang mencapai 400 juta dolar AS pada April 2026. Ketersediaan dolar yang cukup dalam sistem dinilai mendukung persiapan mempertahankan nilai tukar rupiah di masa depan.

BI berkomitmen untuk aktif di pasar 24 jam, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti Eropa, Amerika, dan pasar global lainnya. “Kami terus berupaya menjaga dinamika pasar, termasuk mengelola aliran dana asing secara terukur dan transparan,” tambah Destry.

Berdasarkan data BI, jumlah SRBI pada 21 April 2026 mencapai Rp885,41 triliun. Komponen kepemilikan nonresiden sebesar Rp165,98 triliun (18,75 persen dari total) turut berkontribusi pada kestabilan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, BI juga membeli SBN sebagai upaya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, serta menjaga likuiditas di pasar uang.

Pembelian SBN secara year to date (ytd) hingga 21 April 2026 mencapai Rp111,54 triliun, di antaranya Rp56,53 triliun dari pasar sekunder. BI menegaskan bahwa seluruh transaksi dilakukan sesuai mekanisme pasar, konsisten dengan program stabilisasi perekonomian.

Saat ini, nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar Rp17.140 per dolar AS, menurun 0,87 persen dibandingkan level akhir Maret 2026. Meski demikian, BI yakin peran SRBI dan SBN dalam menopang kinerja mata uang lokal tetap berdampak nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *