Solving Problems: MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini
MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini
Di Jakarta, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya kesepakatan bersama sebagai upaya mewujudkan prinsip yang diperjuangkan RA Kartini dalam konteks masa kini. Menurutnya, perempuan saat ini belum sepenuhnya mencapai semangat kebebasan berpikir yang diperjuangkan RA Kartini. Nilai-nilai ini tetap menjadi landasan penting dalam perjalanan bangsa modern.
“Emansipasi tidak hanya tentang kesempatan belajar, tetapi juga tentang kemampuan perempuan mewujudkan aspirasinya,” ujar Lestari dalam pidatonya di Jakarta, Rabu.
Politisi tersebut mengatakan bahwa tugas bersama masih banyak untuk memastikan nilai-nilai Kartini terus dihidupkan. Setiap momentum Hari Kartini, menurutnya, seharusnya menjadi pengingat terhadap langkah-langkah yang telah diambil untuk mendorong kesetaraan gender.
“Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu mengurangi kesenjangan gender dan menentukan masa depan bangsa secara kolektif,” tambah Lestari.
Kontinuitas Perjuangan Emansipasi
Ketua Umum Badan Pusat Wanita Taman Siswa Nyi Tri Yuliyanti Setyasari menyoroti bahwa perjuangan emansipasi Kartini dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, isteri pendiri Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara. Organisasi tersebut didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta oleh Nyi Hadjar Dewantara.
“Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui pendidikan dan menjadi salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta selama masa keterjajahan sosial kolonial,” tutur Tri Yulianti.
Dalam pandangan Tri Yulianti, Taman Siswa dianggap sebagai sekolah liar oleh pihak penjajah. Perjuangan Nyi Hadjar Dewantara di bidang pendidikan menjadi fondasi bagi perempuan Indonesia untuk meraih kemerdekaan berpikir dan pilihan hidup.