Historic Moment: Kemenhut-BMKG teken kerja sama pencegahan karhutla berbasis sains
Kemenhut dan BMKG Teken Kerja Sama Pencegahan Karhutla Berbasis Ilmu Pengetahuan
Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menandatangani kesepakatan kerja sama berupa nota kesepahaman (MoU) untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pendekatan ilmiah. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menjelaskan bahwa kehadiran El Nino 2026 yang diprediksi muncul lebih dini di semester kedua tahun ini (Juni-Juli) dengan intensitas lemah hingga sedang berpotensi mempercepat datangnya musim kemarau yang lebih awal dan ekstrem.
Kerja Sama untuk Integrasi Data dan Modifikasi Cuaca
Kerja sama ini mencakup penggabungan data meteorologi, klimatologi, serta kehutanan, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, dan pelaksanaan teknik modifikasi cuaca berdasarkan analisis risiko ilmiah. Menhut juga menegaskan bahwa langkah ini selaras dengan tren penurunan luas area karhutla di Indonesia, yang tercatat dari 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi 1,6 juta hektare pada 2019, 1,1 juta hektare pada 2023, hingga sekitar 350 ribu hektare pada tahun sebelumnya.
“BMKG memerankan peran yang sangat penting untuk menurunkan angka karhutla. Dengan prediksi cuaca yang lebih tepat dan proaktif, termasuk upaya pencegahan sebelum api membara,” kata Raja Antoni dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Strategi Koordinasi dan Pemantauan Sumber Air
Menhut menambahkan bahwa koordinasi lintas instansi akan terus dilakukan untuk mencegah karhutla. Selain itu, tinggi muka air tanah juga menjadi fokus pemantauan, terutama di wilayah gambut. “OMC dilakukan jauh sebelum api menyala. Saat tinggi air tanah turun di bawah 40 cm, kita melakukan OMC untuk menambah permukaan air, sehingga risiko kebakaran bisa diminimalkan,” jelas Menhut Raja Juli Antoni.