Solving Problems: Erick minta I-League dan klub tegakkan sikap saling hargai dan empati

Erick Minta I-League dan Klub Tegakkan Sikap Saling Hargai dan Empati

Jakarta – Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyoroti pentingnya I-League, sebagai pengelola Elite Pro Academy (EPA), serta klub-klub yang berpartisipasi dalam kompetisi Super League dan Championship, untuk mendorong sikap saling menghormati dan empati di antara para pemain. Pernyataan ini disampaikan setelah terjadi insiden mengecewakan dalam laga EPA Super League U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC dengan Dewa United Banten FC, Minggu lalu di Stadion Citarum, Semarang. Pertandingan tersebut melibatkan pemain Timnas U-20 Indonesia, Fadly Alberto Hengga.

Dalam keterangan resmi PSSI, Rabu ini, Erick menegaskan bahwa kompetisi usia muda harus menjadi wadah pembentukan pemain yang dewasa, matang, dan memiliki kemampuan yang mumpuni. Menurutnya, seluruh pihak, termasuk operator, klub, ofisial, dan pemangku kepentingan, perlu menjamin pembinaan karakter sejajar dengan pengembangan teknik. “Ini wajib dilakukan agar pemain muda tidak hanya menguasai keterampilan, tetapi juga sikap sportif dan beradab,” ujarnya.

“FIFA dan PSSI tidak menerima bentuk rasisme apa pun di sepak bola, baik di tingkat internasional maupun nasional,” kata Erick. “Dari usia dini, pemain harus diasah dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, serta rasa hormat terhadap wasit. Prestasi sejati tidak cukup hanya didukung skill, tetapi juga watak dan karakter yang baik,” tambahnya.

PSSI menekankan perlunya penegakan aturan anti-rasisme secara konsisten di seluruh level EPA dan kompetisi profesional. Organisasi ini menuntut setiap peristiwa yang menunjukkan sikap diskriminatif harus ditangani serius, tegas, dan bertanggung jawab. Erick menyoroti bahwa kompetisi pembinaan seharusnya menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik, bukan hanya tempat memperebutkan hasil.

Dalam kesempatan yang sama, Erick mengapresiasi upaya Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Dewa United Banten FC yang berusaha memperbaiki hubungan antara dua pemain terlibat, yaitu Fadly Alberto Hengga dan Rakha Nurkholis. “Kedua klub menunjukkan komitmen pada persatuan dan kesatuan sesuai nilai Pancasila. Meski berasal dari wilayah berbeda, mereka tetap berjuang bersama demi kemajuan sepak bola Indonesia,” pungkasnya.

Agar insiden serupa tidak terulang, PSSI mengimbau peningkatan sosialisasi terkait anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan pada aturan, serta penghormatan terhadap keputusan wasit. Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat untuk memastikan kompetisi muda menjadi lingkungan belajar yang positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *