Historic Moment: Film horor “The Bell” angkat urban legend Pulau Belitung

Film Horor “The Bell” Angkat Mitos Penebok dari Belitung

Jakarta – Perusahaan produksi Sinemata Buana Kreasindo menghadirkan film horor terbaru berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati, yang mengisahkan Penebok, makhluk tak berkepala dari legenda lokal Pulau Belitung. Film ini menggali cerita mistis yang berbeda dari kebiasaan industri film Indonesia yang biasanya fokus pada kisah hantu dari wilayah Jawa.

Aktor Utama

Aktor Mathias Muchus, yang turut bermain dalam film ini, menjelaskan bahwa alasan ia terlibat dalam proyek ini terkait keinginan mendukung produksi lokal. Ia juga menyoroti bahwa produser film berasal dari daerah yang sama, Belitung, sebagai faktor menarik. “Belitung memang tempat yang indah dan unik. Sosok Penebok, hantu tanpa kepala, justru memperkaya atmosfer horor yang diangkat dalam film ini. Gaun merahnya, seolah-olah ia mengenakan pakaian yang mengundang ketakutan,” ujarnya.

“Menariknya, Pulau Belitung ternyata menyimpan cerita horor yang tak terduga. Penebok itu bukan kepalanya buntung, tapi lehernya yang putus, membuatnya terlihat lebih mengerikan,” kata Mathias Muchus saat berkunjung ke kantor ANTARA di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, aktris Ratu Sofya yang juga terlibat dalam film ini mengungkapkan pengalaman pertamanya mengunjungi Belitung. “Aku belum pernah ke sana sebelumnya. Syuting di pulau itu memberi kesan luar biasa. Lingkungan dan suasana magisnya membuatku betah dan penasaran,” tambahnya.

Plot Film

“The Bell: Panggilan untuk Mati” karya sutradara Jay Sukmo bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dianggap mampu menaham roh jahat. Sebuah kelompok YouTuber mencuri lonceng tersebut untuk tujuan konten, tetapi tindakan itu justru melepaskan Penebok, makhluk misterius yang terkurung selama ratusan tahun. Setiap suara lonceng menjadi tanda kematian, karena Penebok bergerak untuk mengambil kepala siapa pun yang mendengarnya.

Di bintangi oleh Bhisma Mulia, Shaloom Razade, Givina Dewi, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana, dan Maulidan Zuhri, film ini akan dirilis secara nasional di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026. Proses syuting di Belitung tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga menambah aura mistis yang menyelimuti kisah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *