New Policy: Gaikindo yakin hasil uji coba B50 positif jadi “trademark” RI
Gaikindo Yakin B50 Berhasil Jadi Ciri Khas Indonesia di Pasar Global
Jakarta – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai hasil uji coba bahan bakar biodiesel campuran 50 persen (B50) yang menunjukkan kinerja memuaskan bisa menjadi identitas khas (trademark) nasional di tingkat internasional. Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo, Rabu, mengungkapkan bahwa dukungan terhadap program B50 merupakan bagian dari komitmen industri otomotif dalam mendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan efisiensi energi.
B50 kita mendukung program pemerintah dan itu sudah dilakukan. Sejauh ini hasil sementara yang menunjukkan hal yang cukup bagus. Dan mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia. Dan dengan hasil yang bagus, ini menjadi salah satu trademark tersendiri buat Indonesia,
Kukuh menambahkan, industri otomotif dalam negeri telah terbukti mampu menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis ekonomi 1998 hingga pandemi COVID-19 pada 2020. Meski situasi geopolitik saat ini menimbulkan ketidakpastian terhadap harga bahan baku dan biaya logistik, ia yakin kolaborasi semua pihak akan menjaga stabilitas sektor tersebut.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan laporan awal bahwa penggunaan B50 di sektor otomotif berjalan lancar. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Selasa (21/4), menyatakan bahan bakar nabati (BBN) ini telah memenuhi standar yang ditetapkan.
“Kalau performa mesin, tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai spesifikasi,” ujar Eniya.
Menurutnya, hasil uji jalan menunjukkan bahwa B50 memiliki kadar FAME 49-50 persen serta parameter kadar air, monogliserida, dan stabilitas oksidasi dalam batas yang diperbolehkan. Kadar air tercatat maksimal 300 ppm, lebih rendah dari 320 ppm yang diterapkan untuk B40, menurut rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair.
Kukuh juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi kendaraan yang lebih efisien, seperti elektrifikasi penuh, hybrid, dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Ia menilai PHEV memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan, terutama ketika dikombinasikan dengan bahan bakar biofuel.