Key Discussion: Pemasangan alat sensor dibahas Kemenhut-BMKG untuk tekan karhutla
Pemasangan alat sensor dibahas Kemenhut-BMKG untuk tekan karhutla
Jakarta – Upaya peningkatan perlindungan hutan dari ancaman karhutla (kemarau hutan dan lahan) kini menjadi fokus kolaborasi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan pemasangan sensor sebagai alat pemantau kekeringan di lahan rawan terbakar adalah salah satu langkah yang disepakati. Ia menekankan bahwa inisiatif ini bertujuan memperkuat penggunaan data prediksi untuk mencegah kekeringan ekstrem serta menekan risiko kebakaran.
“Kami sepakat memperkuat perlindungan hutan melalui upaya preventif dan kuratif. Telah dibahas beberapa potensi kerja sama, termasuk pemasangan sensor dan integrasi data, sebagai langkah pencegahan serta pengendalian karhutla,” ujar Faisal usai menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu.
Prediksi El Nino dan Data Titik Api
BMKG menyatakan bahwa kondisi musim kemarau di Indonesia diperkirakan lebih ekstrem pada semester kedua 2026 akibat fenomena El Nino yang lemah hingga moderat. Dengan peluang mencapai 70-90 persen, langkah teknologi ini menjadi prioritas. Hingga Selasa (21/4), BMKG mencatat total titik api di Indonesia mencapai 1.777, dengan dominasi di Riau dan Kalimantan Barat. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode serupa tahun-tahun sebelumnya, menurut data yang dimiliki lembaga tersebut.
Intervensi Atmosfer melalui OMC
Untuk melengkapi upaya pencegahan, Faisal menambahkan intervensi atmosfer atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan. Metode ini melibatkan penyemprotan garam atau NaCl ke awan potensial menggunakan pesawat, dengan harapan meningkatkan curah hujan di wilayah rawan. “OMC saat ini dijalankan di Riau dan Kalimantan Barat untuk menaikkan tinggi muka air tanah gambut. Tujuannya agar lahan tidak mudah terbakar saat musim kemarau tiba,” terangnya.
“Kejadian karhutla tahun ini berpotensi meningkat seiring fenomena El Nino. Maka, intervensi melalui OMC dan ketepatan data sangat menentukan apakah karhutla bisa dikendalikan, serta penegakan hukum dan disiplin masyarakat untuk tidak membakar lahan,” tambah Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni.