Main Agenda: RI Tak Anak Emaskan Jepang, Pintu Terbuka Buat Semua Pabrikan Mobil
RI Tak Anak Emaskan Jepang, Pintu Terbuka Buat Semua Pabrikan Mobil
Dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) yang berlangsung di Kementerian Perindustrian, Rabu (22/4/2026), Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin, Setia Diarta, menegaskan bahwa Indonesia tidak membatasi asal negara dalam pengembangan industri otomotif. Kebijakan investasi di negeri ini diatur secara terbuka dan tidak memihak.
Pernyataan Setia Diarta
“Pemerintah sebenarnya membuka peluang investasi bagi siapa saja di Indonesia. Jadi tidak ada menutup negara mana, negara mana tuh tidak ada, Pak,” ujar Setia.
Ia menjelaskan bahwa masuknya produsen seperti BYD adalah bagian dari strategi bisnis perusahaan yang memanfaatkan regulasi Indonesia, terutama komitmen investasi. Pemerintah juga mengakui bahwa negara ini sering menjadi lokasi uji pasar bagi merek global. Namun, ada batasan yang diperhitungkan untuk mendorong investasi lebih dalam.
Kebijakan ini menekankan bahwa jika impor mencapai lebih dari 5.000 unit, maka pihaknya akan mendorong produsen untuk melakukan CKD (Completely Knocked Down) di dalam negeri. “Kalau memang ada impornya lebih dari 5.000 (unit), memang kami akan mendorong dan mengajak untuk melakukan CKD di Indonesia,” tambahnya.
Kesiapan BYD Indonesia
Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther Panjaitan, menyampaikan kesiapan perusahaan dalam menjalankan produksi di Indonesia. “Jumlah orang karyawan saat ini di manufaktur sekitar 3.000-an orang dengan sudah mulai melakukan manufaktur pada stamping, painting, welding, dan assembly. Beroperasi dalam waktu dekat,” ungkap Luther.
Setia juga menyoroti fleksibilitas skema produksi lokal yang kini lebih terbuka. Produsen dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, seperti yang dilakukan Kia melalui produksi Hyundai atau merek dari China yang memasuki Handal. “Saya sebut merek saja ya, Kia datang memanfaatkan fasilitas produksi Hyundai karena mereka satu grup saat ini. Kemudian beberapa merek dari investasi China datang masuk ke Handal,” katanya.
Dampak Ekonomi
Ekspansi produksi di Indonesia berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja serta kegiatan ekonomi. “Penambahan line produksi salah satu implikasinya mesin baru datang, tenaga kerja baru butuh. Dan ini kan juga membantu untuk ekonomi kita,” lanjut Setia.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa komitmen BYD di Subang memberikan efek signifikan pada pembentukan lapangan kerja. “BYD datang dengan komitmen investasi datang ke Subang, sudah memberikan efek lapangan kerja pada 3.000 orang,” ujarnya.
Setia menegaskan kembali bahwa Indonesia membuka peluang bagi seluruh investor, termasuk pemain baru dari berbagai negara. “Selama memang mau berinvestasi di Indonesia, tujuannya baik untuk membangun, mau tumbuh sama-sama dengan bangsa Indonesia baik ekonomi, baik komunitas dan lain sebagainya, ayo kita buka semuanya itu silakan tanpa memberi batasan-batasan,” tegasnya.
Ia menegaskan tidak ada diskriminasi atau pembatasan khusus terhadap negara tertentu. “Termasuk Vinfast juga yang masuk lewat Bekasi juga kita tidak ada dibatasi-batasi, Semuanya terbuka,” kata Setia.
Dengan perkembangan ini, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai basis produksi otomotif yang menarik di kawasan Asia Tenggara, baik bagi produsen lama maupun pemain baru dari China hingga Vietnam.